Logam Mulia Bertahan di US$1.200 Meski Dana di Bursa Emas Anjlok

Harga emas bertahan di kisaran posisi US$1.200-an meskipun kepemilikan dana di bursa (ETF) emas melorot ke level terendahnya selama setahun terakhir.
Mutiara Nabila | 19 September 2018 21:01 WIB
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas bertahan di kisaran posisi US$1.200-an meskipun kepemilikan dana di bursa (ETF) emas melorot ke level terendahnya selama setahun terakhir.

Harga emas spot pada perdagangan Rabu (19/9) mencatatkan kenaikan 4,28 poin atau 0,36% menjadi US$1.202,64 per troy ounce. Sedangkan harga emas Comex juga tercatat naik 3,80 atau 0,32% menjadi US$1.206,70 per troy ounce.

Pada bulan lalu, harga emas bergejolak hingga selisih US$31 per troy ounce dengan harga tertingginya menyentuh US$1.214,35 dan terendahnya di posisi US$1.182,86 per troy ounce.

Kepala analis ActivTrades Carlo Alberto De Casa mengatakan bahwa emas akan lanjut melayang ke kisaran antara US$1.200-an per troy ounce.

Penurunan jumlah ETF emas belum cukup kuat untuk menekan harga emas. Aset kepemilikan emas tercatat turun sebanyak 2.103,6 ton ke titik terendah sejak 20 September tahun lalu.

Menurut data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) AS, pada awal tahun ini, hedge fund dan spekulator lainnya membangun posisi jangka pendek sebanyak mungkin untuk perdagangan berjangka dan opsi hingga tertinggi seperti pada 2006 silam.

Dari data terbaru hingga pekan 11 September menunjukkan bahwa hanya ada penurunan sedikit pada taruhan bearish untuk harga emas.

“Emas tetap berada di kisaran US$1.200-an dalam sebulan terakhir. Dalam kurun waktu tersebut emas mampu menyerap pembelian dari investor berjangka dan ETF,” ujar Ole Hansen, Kepala strategi komoditas di Saxo bank A/S, dilansir dari Bloomberg, Rabu (19/9/2018).

Hansen menambahkan bahwa hal itu mengindikasikan permintaan terhadap emas sebenarnya sudah mulai meningkat, tetapi untuk mendorong harga emas ke posisi tinggi, masih harus didukung lebih kuat lagi oleh pelemahan dolar AS dan penurunan pasokan.

Emas masih kesulitan mendapat dorongan untuk kenaikan harga dalam setahun belakangan, dengan investor yang masih lebih memilih dolar AS sebagai aset safe-haven.

Penguatan dolar AS sejak akhir April telah menahan potensi kemajuan harga emas meskipun pemicu potensial seperti ketidakpastian politik global dan kenaikan perang dagang seharusnya bisa mendorong harga emas.

Namun, sudah banyak trader dan analis emas mayoritas suadh mulai melaporkan outlook bullish untuk harga emas dalam sebulan terakhir.

Analis PT Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan meski menguat kali ini, masih ada kemungkinan bagi harga emas untuk kembali melemah melihat gejolak perang dagang AS dan China yang masih belum jelas akhirnya sehingga bisa mendorong penguatan dolar AS.

“Harga emas menguat dalam jangka pendek seiring investor yang melakukan aksi short covering pasca pelemahannya pada sesi sebelumnya. Namun, dengan adanya aksi balasan tarif impor dari China pasca kenaikan tarif dari AS, harga emas berpotensi untuk berbalik melemah seiring dolar yang cenderung menguat ketika memanasnya konflik dagang di antara kedua negara tersebut.,” ujarnya dalam laporan harian resminya, Rabu (19/9/2018).

Faisyal memproyeksikan secara teknikal harga emas akan berada dikisaran antara US$1.205–US$1.217 per troy ounce jika bisa mempertahankan kenaikan.

Tag : Harga Emas Hari Ini
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top