Pasokan Menumpuk, Harga Litium di China Ambles Hampir 50%

Kelebihan pasokan litium pada tahun ini membuat harganya anjlok hingga hampir 50% di China, menghentikan laju kenaikan harga komoditas yang digunakan sebagai komponen utama pembuatan baterai dan kendaraan listrik.
Mutiara Nabila | 18 September 2018 16:33 WIB
Baterai untuk kendaraan listrik diproduksi di pabrik Dongguan, China, 20 September 2017. - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Kelebihan pasokan litium pada tahun ini membuat harganya anjlok hingga hampir 50% di China, menghentikan laju kenaikan harga komoditas yang digunakan sebagai komponen utama pembuatan baterai dan kendaraan listrik.

Namun, sejumlah analis mengatakan bahwa permintaan untuk jangka panjang bisa menopang pasar, melihat adanya surplus permintaan sepanjang 2018.

Konsultan di CRU Alex Laugharne memaparkan bahwa pasokan litium dipastikan masih membeludak karena sudah terlalu banyak proyek pertambangan. Meskipun permintaan belum menurun, Laugharne mengatakan harga litium karbonat, yang digunakan dalam baterai akan tetap tertekan karena kelebihan pasokan.

Sebelumnya, kemunculan kendaraan listrik membuat harga komponen baterai litium-ion, seperti litium dan kobalt, melonjak karena banyak konsumen seperti perusahaan pabrik kendaraan yang berlomba mengamankan pasokan.

Akan tetapi, harga litium mulai tertekan untuk 2018 karena penambang terus memacu produksinya, sedangkan konsumen sudah punya timbunan pasokan dan subsidi pada Kendaraan Energi Terbarukan (NEV) China sudah ditarik.

Berdasarkan catatan Benchmark Mineral Intelligence (BMI), harga litium di China, sebagai negara konsumen utama komoditas komponen tersebut, anjlok ke US$13.000 per ton pada Agustus dari puncaknya di posisi US$24.750 pada Maret lalu.

Sejumlah analis di CRU memperkirakan pasar litium akan mengalami surplus pasokan hingga 22.000 ton pada 2018, dengan permintaan hanya akan mencapai 277.000 ton. Hal itu senada dengan outlook dari Wood Mackenzie yang memperkirakan harga litium akan terus merosot dan dalam tren penurunan karena surplus akan berlangsung hingga jangka menengah.

Sementara itu, pengetatan kredit pemain pasar litium di China terpaksa harus menjual pasokannya untuk mengamankan keuangannya sehingga semakin membanjiri pasar dengan komoditas komponen baterai itu.

Di waktu yang sama, China juga menghapuskan subsidi untuk sejumlah NEV sebagai bagian dari upaya untuk mendorong produsen otomotif agar lebih terfokus pada perkembangan teknologi daripada bergantung pada kebijakan fiskal.

“Perubahan pada subsidi tersebut membuat konsumen menahan pembelian litiumnya pada semester I/2018 karena ingin menyesuaikan strategi pembelian dan menunggu harga litium untuk turun lebih dalam lagi. Hal itu membuat aktivitas perdagangan litium melambat,” ujar Andrew Miller, analis BMI, dikutip dari Reuters, Selasa (18/9/2018).

Saham produsen litium, seperti Albemarle dan SQM, serta Jiangxi Ganfeng Lithium di Jepang, turut mendapat tekanan dari penurunan harga komoditasnya.

Tag : komoditas, logam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top