Setelah Tembus Rp14.900 Per Dolar AS, Rupiah Menguat Tipis

Nilai tukar rupiah ditutup menguat kembali ke Rp14.800-an per dolar Amerika Serikat setelah pada sesi perdagangan yang sama menembus Rp14.900 per dolar AS karena dolar AS yang menguat setelah menaruh tarif impor terbaru kepada barang China senilai US$200 miliar.
Mutiara Nabila | 18 September 2018 21:25 WIB
Transkasi penukaran uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup menguat kembali ke Rp14.800-an per dolar Amerika Serikat setelah pada sesi perdagangan yang sama menembus Rp14.900 per dolar AS karena dolar AS yang menguat setelah menaruh tarif impor terbaru kepada barang China senilai US$200 miliar.

Pada penutupan perdagangan Selasa (18/9), rupiah ditutup menguat tipis 19 poin atau 0,12% menjadi Rp14.862 per dolar AS. Selama tahun berjalan rupiah tercatat melemah 8,79% di hadapan dolar AS.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa secara teknikal rupiah cukup menguat di level Rp14.800-an. Akan tetapi, untuk kedepannya rupiah masih dalam tren pelemahan.

“Secara teknikal menguat di Rp14.800-an per dolar AS. Ada toleransi sampai ke Rp15.000 seperti kneejerk reaction. Tapi trennya masih akan melemah,” ujar Wahyu kepada Bisnis, Selasa (18/9/2018).

Adapun, isu terbaru yang menjadi sentimen pelemahan rupiah adalah putaran tarif terbaru dari pihak Negeri Paman Sam ke Negeri Panda sebesar 10% untuk barang konsumsi senilai US$200 miliar yang diluncurkan pada Senin (17/9).

Dengan tensi perang dagang yang semakin menguat, indeks dolar AS pun ikut menghijau di hadapan sekeranjang mata uang. Indeks dolar mencatatkan penguatan 0,02% dan berdiri di posisi 94,52.

“Untuk saat ini, pergerakan rupiah masih berpatokan pada penguatan dolar AS karena perang dagang. Tidak banyak yang berubah dari fundamental domestik dan outlook jangka menengah untuk rupiah,” lanjutnya.

Kemudian, menjelang rapat Federal Reserve AS pada akhir September dengan kemungkinan bahwa The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan moneternya dan adanya kepastian kenaikan suku bunga lebih lanjut diprediksi akan semakin menekan rupiah.

“Faktor utamanya masih pada perekonomian AS yang cukup kuat dan kebijakan moneternya yang membaik sehingga dolar AS kemungkinan akan kembali menguat dan rupiah akan bullish di hadapan dolar AS,”

Wahyu menilai untuk saat ini rupiah belum memiliki pijakan untuk menguatkan rupiah, terutama menuju keputusan The Fed mendatang. Pemerintah dan Bank Indonesia sudah melakukan inntervensi dan kinerjanya dinilai Wahyu cukup baik dan berhasil.

“Saat ini yang harus diupayakan adalah untuk menahan tidak memperburuk fundamental untuk menghindari skenario terburuk dari kemungkinan penguatan dolar AS selanjutnya. Pemerintah bisa berupaya mempertahankan keseimbangan current account deficit [CAD] dan memperbaiki kebijakan ekspor dan impor,” kata Wahyu.

Menurutnya, dari domestik sendiri hanya bisa melakukan antisipasi untuk bertahan dari terpaan faktor eksternal luar biasa terutama dari AS.

Wahyu menambahkan bahwa penguatan rupiah pada saat penutupan ini karena sentimen saham Asia yang cukup baik. Saham di Asia bergejolak pada perdagangan Selasa karena para trader masih menantikan respons Beijing pada tarif tambahan 10% dari AS untuk impor China senilai US$200 miliar.

Selain itu, Wahyu memproyeksikan rupiah akan bergerak melayang di posisi Rp14.800 per dolar AS untuk sepekan ke depan, dan bisa kembali menembus Rp15.000 per dolar AS jika dolar AS kembali menguat tajam setelah pertemuan The Fed mendatang.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top