Saham Antam (ANTM) Diprediksi Mengilap, Harga Bisa Tembus Rp1.000

Proyeksi peningkatan kinerja fundamental PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) diperkirakan turut mendorong kenaikan harga sahamnya menembus Rp1.000
Hafiyyan | 18 September 2018 10:18 WIB
Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Arie P. Ariotedjo (dari kanan), Direktur Hari Widjajanto dan Direktur Johan NB Nababan memberikan penjelasan usai RUPST, di Jakarta, Kamis (12/4/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA-Proyeksi peningkatan kinerja fundamental PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) diperkirakan turut mendorong kenaikan harga sahamnya menembus Rp1.000.

Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan menyampaikan, pada 2018 kinerja keuangan ANTM diperkirakan meningkat signifikan seiring dengan pertumbuhan penjualan sejumlah komoditas utama perseroan, yakni emas, nikel, dan bauksit.

Pendapatan dan laba bersih ANTM pada 2018 diperkirakan masing-masing senilai Rp25,58 triliun dan Rp1,1 triliun. Kinerja itu meningkat signifikan dari realisasi 2017 masing-masing sejumlah Rp12,65 triliun dan Rp136 miliar.

“Pencapaian laba bersih semester I/2018 senilai Rp344,5 miliar mencakup 31,2% estimasi kami. Namun, Mirae tetap memertahankan proyeksi kinerja ANTM pada 2018,” paparnya dalam riset, dikutp Minggu (16/9/2018).

Per Juni 2018 pendapatan ANTM mencapai Rp11,81 triliun, melonjak 292,41% year-on-year (yoy) dari sebelumnya Rp3,01 triliun. Laba bersih sejumlah Rp344,45 miliar, berbalik dari rugi bersih pada semester I/2017 senilai Rp496,12 miliar.

Kendati meningkat signifikan secara tahunan, laba bersih ANTM pada kuartal II/2018 hanya sejumlah Rp98,8 miliar, turun 59,8% dari triwulan sebelumnya. Andy menyampaikan, penurunan laba secara kuartalan disebabkan tekanan selisih kurs Rp191,8 miliar. 

Bila selisih kurs tidak dianggap, laba perseroan pada kuartal II/2018 mencapai Rp290,5 miliar, naik 18,3% dari triwulan sebelumnya. Selain itu, penurunan laba disebabkan ada sejumlah penjualan yang terealisasi pada semester I/2018 tetapi belum tercatat sehingga baru dibukukan pada semester selanjutnya.

Andy menuturkan, ANTM memang cukup terpapar risiko penurunan nilai tukar rupiah. Pasalnya, 71% total utang per Juni 2018 berada dalam mata uang dolar AS. Risiko lain yang membayangi kinerja perseroan ialah penurunan harga emas dan nikel global. 

Secara keseluruhan, Andy memandang ANTM memiliki prospek yang positif. Oleh karena itu, dia merekomendasikan beli terhadap sahamnya dengan target harga Rp1.400. Target harga saham itu mencerminkan PER 17,3 kali, dan EV/EBITDA 12,x kali.

Analis Samuel Sekuritas Arandi Ariantara dan Sharlita Malik dalam laporannya memberikan rekomendasi beli terhadap saham ANTM dengan target harga Rp1.050. Salah satu sentiment pendorong ialah proyeksi bullish terhadap harga nikel.

Sampai dengan akhir 2018, harga nikel akan bergerak ke level US$13.500 per ton. Dengan demikian, rerata harga sepanjang tahun ini mencapai US$13.200 per ton.

Tag : antam, kinerja emiten
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top