Emas Memerah Setelah Dolar AS Menguat

Emas ditutup memerah tajam, menghapuskan kenaikan sebelumnya setelah dolar Amerika Serikat tercatat kembali menguat di hadapan mata uang yuan China setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan memberitahukan pemerintahnya untuk segera memproses tarif kepada impor China.
Mutiara Nabila | 16 September 2018 13:48 WIB
Emas comex - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Emas ditutup memerah tajam, menghapuskan kenaikan sebelumnya setelah dolar Amerika Serikat tercatat kembali menguat di hadapan mata uang yuan China setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan memberitahukan pemerintahnya untuk segera memproses tarif kepada impor China.

Trump telah meminta pemerintahnya untuk segera menaruh tarif pada barang China senilai US$200 miliar. Kepala Perdagangan U.S. Global Investors Michael Matousek mengatakan bahwa hal itu yang menjadi tekanan bagi harga emas pada penutupan perdagangan Jumat (14/9/2018).

“Dolar AS menguat, sementara pasar S&P menurun. Banyak perusahaan secara teori akan mengalami penurunan pendapatan karena terkena pajak,” ujar Matousek, dilansir dari Reuters, Minggu (16/9/2018).

Setelah perkembangan terakhir terkait dengan perang dagang antara AS dan China, indeks dolar AS kemudian terkerek di hadapan enam mata uang utama, termasuk yuan, dengan kenaikan hingga 0,4% menjadi 94,92. Sementara itu, indeks S&P justru mengakami penurunan.

Pada penutupan perdgangan Jumat (16/9/2018), harga emas spot mencatatkan penurunan hingga 6,61 poin atau 0,55% menjadi US$1.194,85 per troy ounce dan mengalami penurunan sebanyak 8,29% selama tahun berjalan.

Harga emas spot sudah sempat mengalami kenaikan hingga 0,1% dalam sepekan terakhir dan menyentuh level tertinggi sejak 28 Agustus pada posisi US$1.212,65 per troy ounce. Harga emas spot masih dalam jalurnya mencatatkan kenaikan mingguan ketiga berturut.

Adapun, harga emas Comex pada sesi perdagangan yang sama mencatatkan penurunan 7,10 poin atau 0,59% menjadi US$1.201,10 per troy ounce dan turun 8,64% secara year-to-date (ytd).

Perang dagang yang telah berlangsung berbulan-bulan lamanya antara Washington dengan Beijing telah memicu para investor untuk membeli dolar AS sebanyak mungkin, dengan keyakinan bahwa AS tidak akan terlalu merugi dalam perang dagang.

Sejumlah analis mengatakan bahwa emas telah menunjukkan korelasinya dengan kekuatan mata uang China, sebagai negara konsumen emas terbesar di dunia.

Sementara itu, para investor masih mengekspektasikan kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat. Kenaikan suku bunga AS akan membuat emas kurang menarik karena tidak berbunga dan memerlukan biaya lebih tinggi untuk penyimpanan dan asuransinya.

Harga emas juga telah mencatatkan penurunan 12% dari puncaknya di posisi US$1.365,23 per troy ounce pad April lalu karena tensi perang dagang yang semakin menguat dan sentimen negatif dari kenaikan suku bunga AS.

Pada logam mulia lainnya, perak spot mencatatkan penurunan 0,11 poin atau 0,75% menjadi US$14,06 per troy ounce dan turun 16,98% sepanjang 2018. Sedangkan harga perak Comex tercatat turun 0,10 poin atau 0,72% menjadi US$14,14 per troy ounce dan mencatatkan penurunan sebanyak 18,10% ytd.

Selanjutnya, platinum spot mengalami penurunan 7,18 poin atau 0,89% menjadi US$795,85 per troy ounce dan turun 14,26% selama 2018 berjalan. Adapun, platinum Comex turun 4,70 poin atau 0,59% menjadi US$798,60 per troy ounce dan turun 14,52% selama 2018.

Kemudian, paladium spot mencatatkan penurunan 3,52 poin atau 0,36% menjadi US$978,55 per troy ounce dan turun 7,99% secara ytd. Sementara itu, paladium Comex justru mengalami kenaikan 1,8 poin atau 0,19% menjadi US$970,50 per troy ouncedan turun 5,86% selama tahun berjalan.

“Kami melihat banyak investor mulai kembali masuk ke perdagangan platinum, yang kali ini mendekati rekor diskon dengan emas,” ujar Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.

Platinum dinilai mulai menjadi pilihan karena masih lebih murah. Adanya kekhawatiran akan pertumbuhan manufaktur mobil dinilai Hansen masih menjadi faktor pembalik untuk harga logam mulia itu.

 

Tag : Harga Emas Hari Ini
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top