Mirae Asset: Harga SUN Cenderung Meningkat Terbatas Respons Perkembangan Global

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan sentimen positif dari turunnya inflasi AS dan tidak adanya kejutan dari pertemuan ECB semalam, akan mendorong harga SUN secara umum kembali meningkat terbatas pada perdagangan di pasar sekunder akhir pekan ini, Jumat (14/9/2018).
Emanuel B. Caesario | 14 September 2018 09:52 WIB
obligasi

Bisnis.com, JAKARTA - Mirae Asset Sekuritas memperkirakan sentimen positif dari turunnya inflasi AS berdasarkan indikator Indeks Harga Konsumen, dan tidak adanya kejutan dari pertemuan ECB semalam, akan mendorong harga SUN secara umum kembali meningkat terbatas pada perdagangan di pasar sekunder akhir pekan ini, Jumat (14/9/2018).

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas memperkirakan rentang pergerakan harga dan imbal hasil seri-seri acuan SUN hari ini adalah sebagai berikut [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023):  89,40 (8,41%) -  89,95  (8,26%)
FR0064 (15 Mei 2028):  84,65 (8,48%) -  85,10  (8,40%)
FR0065 (15 Mei 2033):  82,40 (8,78%) -  83,10  (8,68%)
FR0075 (15 Mei 2038):  86,00 (9,03%) -  86,70  (8,95%)

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hari ini diperkirakan bergerak fluktuatif pada rentang Rp14.740 – Rp14.862 dengan kecenderungan menguat. "Kami merekomendasikan jual untuk seri-seri  FR0063, FR0064, FR0065,  dan FR0075," katanya dalam riset harian, Jumat (14/9/2018).

Adapun, pada perdagangan kemarin, harga SUN secara umum meningkat. Rata-rata peningkatan harga SUN di pasar sekunder untuk kategori SUN tenor pendek adalah sebesar 3,40 bps sementara untuk SUN tenor menengah dan panjang masing - masing mengalami rata - rata kenaikan harga sebesar 23,82 bps dan 32,12 bps.  

Dengan demikian, yield SUN secara umum menurun di mana khusus benchmark 10 tahun turun ke level 8,49% dibandingkan dengan level sebelumnya sebesar 8,57%. 

Kenaikan harga SUN (turunnya yield) di pasar sekunder khususnya di awal perdagangan didorong oleh apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar akibat sentimen menurunnya inflasi produsen AS meski pada akhirnya cenderung melemah hingga terdepresiasi tipis sebesar 0,047% ke level Rp14.840 dibandingkan dengan hari sebelumnya. 

Sementara itu, seiring dengan meningkatnya harga SUN di pasar sekunder kemarin, frekuensi transaksi obligasi pemerintah di pasar sekunder meningkat sebesar 826 kali (sebelumnya 721 kali). 

Transaksi didominasi oleh seri benchmark dan SUN tenor panjang meski tingkat nominal cenderung lebih rendah dibandingkan dengan hari sebelumnya karena hari sebelumnya terdapat lelang SUN. 

Di pasar global, yield US Treasury cenderung stagnan dan indeks dolar AS menurun pada perdagangan global semalam/dinihari.

Pergerakan dolar AS pada cenderung melemah yang tercermin dari turunnya indeks dolar AS ke level 94,56 poin (sebelumnya di kisaran 94,80 poin) setelah rilis data inflasi AS berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun. 

Mengikuti rilis inflasi produsen (berdasarkan indikator Indeks Harga Produsen) pada hari  sebelumnya, rilis inflasi AS berdasarkan indikator IHK per Agustus 2018  turun ke level 2,7% (YoY) dibandingkan dengan inflasi Juli 2018 sebesar 2,9% (YoY) dan ekspektasi pasar sebesar 2,8% (YoY). 

Rilis data inflasi AS juga sempat membuat yield US Treasury khusus tenor 10 tahun menurun meski pada akhirnya kembali ke level yang sama dibandingkan dengan hari sebelumnya (stagnan) setelah rilis defisit APBN Agustus 2018 lebih besar/melebar menjadi sebesar USD214 miliar dibandingkan dengan Juli 2018 dengan defisit APBN sebesar USD77 miliar dan lebih besar dibandingkan dengan konsensus pasar dengan defisit sebesar USD156,6 miliar. 

Selain itu, sentimen kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Turki dari 17,75% menjadi 24%, membuat mata uang Lira menguat terhadap dolar AS sebesar 4,41% ke level 6,08 Lira sekaligus sedikit meredakan kekhawatiran terhadap risiko emerging markets yang pada akhirnya menurunkan minat terhadap aset safe haven (mendorong kenaikan yield US Treasury dan depresiasi dolar AS). 

Sementara itu, sesuai dengan ekspektasi pasar, ECB mempertahankan suku bunga acuan di level 0% dan menyampaikan rencana  untuk menahan level suku bunga saat ini setidaknya hingga musim panas tahun depan. 

Selain itu, ECB juga mengulangi pernyataan terkait rencana pengurangan nominal program quantitative easing dari sebelumnya €30 miliar per bulan menjadi  €15 miliar per bulan yang akan dimulai per Oktober ini. 

Tag : Obligasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top