Ini Alasan Obligasi Valas Pemerintah Lebih Stabil

Surat utang pemerintah Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat masih relatif bertahan di tengah gejolak pasar global saat ini, menandakan kepercayaan investor secara umum masih tinggi terhadap Indonesia.7
Emanuel B. Caesario | 14 September 2018 07:48 WIB
Ilustrasi - www.hennionandwalsh.com

Bisnis.com, JAKARTA — Surat utang pemerintah Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat masih relatif bertahan di tengah gejolak pasar global saat ini, menandakan kepercayaan investor secara umum masih tinggi terhadap Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga Kamis (13/9), yield surat utang negara (SUN) berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun atau INDO28 berada pada posisi 4,53%. Yield ini sudah meningkat 100,6 bps dari posisi akhir tahun lalu. Secara persentase, peningkatan yield ini mencapai 28,5% secara year-to-date (ytd).

Peningkatan yield ini lebih rendah dibandingkan dengan yang terjadi pada instrumen SUN berdenominasi rupiah tenor 10 tahun seri FR0064 yang sepanjang tahun ini sudah meningkat 201,3 bps ke posisi 8,48%. Peningkatan ini setara 31% ytd.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa peningkatan yield INDO28 tidak setinggi FR0064 karena obligasi global pemerintah tidak terpapar risiko kurs. Peningkatan yield pada seri rupiah adalah untuk mengompensasi pelemahan kurs.

Sepanjang tahun berjalan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah melemah 9,89% sehingga kini berada pada posisi Rp14.840 per dolar AS. Meskipun tidak terpapar faktor kurs, tetapi tidak berarti INDO28 bebas sentimen negatif.

Volatilitas pasar global yang meningkat akibat berbagai faktor seperti perang dagang, krisis sejumlah negara berkembang, pemulihan ekonomi AS, menyebabkan derasnya arus modal keluar dari negara berkembang.

Di sisi lain, Indonesia juga masih menghadapi defisit transaksi berjalan dan defisit perdagangan yang lebar. Secara total, faktor-faktor tersebut meningkatkan persepsi resiko investasi Indonesia, tercermin dari kian tingginya angka credit default swap (CDS).

Berdasarkan data Bloomberg, CDS 5 tahun Indonesia sudah meningkat 63,93% sepanjang tahun berjalan, dari posisi 86,90 menjadi 142,46 pada Kamis (13/9). Posisi CDS Indonesia bahkan sempat menyentuh 150,81 pada Rabu (5/9) pekan lalu.

“Tren dolar yang menguat saat ini memang menyebabkan risiko lebih besar pada obligasi berdenominasi rupiah, sehingga investor asing merasa lebih aman pada obligasi valas walaupun sama-sama berisiko. Di obligasi valas, investor hanya memperhatikan CDS saja,” katanya, Rabu (12/9).

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa peningkatan CDS tahun ini yang paling jauh baru pada level 150 atau masih sangat aman bagi Indonesia. Level CDS boleh dianggap menghawatirkan bila sudah mencapai level 250 atau 300.

Di sisi lain, pelemahan yang terjadi pada nilai tukar rupiah selama ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksnternal. Secara umum, data fundamental Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan defisit anggaran masih sangat sehat.

“Global bond kita tetap kuat karena investor belum melihat adanya pelemahan yang signifkan dari fundamental Indonesia, sehingga masih oke bagi mereka untuk investasi di sini,” katanya. 

Selain itu, yield US Treasury juga sejauh ini tidak terlalu lama bertahan di atas level 3%, tetapi cenderung selalu turun kembali. Kemarin, yield US Treasury 10 tahun ditutup di level

Siswa Rizali, Presiden Direktur Asanusa Asset Management, mengatakan bahwa di tengah kondisi global yang belum stabil, investor asing cenderung keluar dari semua negara berkembang. Selanjutnya, mereka mulai mengamati negara-negara berkembang yang lebih solid dan memiliki daya tahan lebih baik. 

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu yang masih menarik. Hanya saja, investor asing saat ini tidak cukup berani untuk masuk ke instrumen berdenominasi rupiah meskipun yieldnya tinggi, sebab risiko kurs sulit diukur. Alhasil, pilihan paling menarik adalah pada seri berdenominasi dolar.

Menurutnya, hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan penurunan harga atau peningkatan yield pada INDO28 dan obligasi global pemerintah lainnya tidak setajam SUN berdenominasi rupiah saat ini. 

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, posisi kepemilikan investor asing pada surat berharga negara (SBN) domestik tercatatnet sell Rp900 miliar per Rabu (12/9) dibandingkan akhir tahun lalu.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director FixedIncome Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa secara umum karakter investor di pasar surat utang negara berdenominasi asing tidak sesensitif seperti pasar dalam negeri.

Di dalam negeri, investor domestik cenderung menyimpan obligasi negara untuk jangka panjang atau hingga jatuh tempo, sementara investor asingnya cenderung banyak bermain di pasar sekunder. Alhasil, pergerakan harga sangat dipengaruhi oleh dinamika investor asing. 

Sementara itu, di pasar obligasi valas secara umum cenderun lebih stabil sehingga investor justru banyak mencarinya ketika situasi pasar sedang bergejolak. Apalagi, Indonesia saat ini sudah memiliki peringkat layak investasi penuh dari seluruh lembaga pemeringkat utama dunia.

“Yield obligasi valas kita cukup tinggi di luar dan stabil. Walaupun tertekan, itu hanya karena faktor pasar saja. Ini menjadikan insturmen surat utang valas pemerintah ini menarik,” katanya.

 

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top