Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Diproyeksi Meningkat

Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder meningkat pada Kamis (13/9/2018), didorong oleh rilis inflasi produsen AS yang di luar ekspektasi pasar mengalami penurunan.
Emanuel B. Caesario | 13 September 2018 11:08 WIB
Ilustrasi Surat Utang Negara - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder meningkat pada Kamis (13/9/2018), didorong oleh rilis inflasi produsen AS yang di luar ekspektasi pasar mengalami penurunan.
 
Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Indonesia Dhian Karyantono memprediksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini sebagai berikut [harga (yield)]:
 
FR0063 (15 Mei 2023):  89,50 (8,38%) -  89,90  (8,27%)
FR0064 (15 Mei 2028):  84,20 (8,56%) -  84,60  (8,49%)
FR0065 (15 Mei 2033):  82,30 (8,79%) -  83,00  (8,70%)
FR0075 (15 Mei 2038):  86,00 (9,03%) -  86,70  (8,95%)
 
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksi bergerak fluktuatif pada rentang Rp14.740-Rp14.862 dengan kecenderungan menguat.
 
Dia merekomendasikan tahan pada seri  FR0063 dan FR0075, jual pada seri FR0064 dan FR0065, serta beli untuk seri FR0072, FR0068, dan FR0070.
 
Pada Rabu (12/9), harga SUN secara umum menurun didorong oleh adanya momen jelang lelang SUN dan sentimen negatif dari meningkatnya yield US Treasury pasca rilis data lowongan pekerjaan AS (JOLTs).
 
Rata-rata penurunan untuk kategori SUN tenor pendek adalah 2,87 bps, sedangkan SUN tenor menengah dan panjang mengalami kenaikan harga masing-masing sebesar 24,39 bps dan 79,35 bps. 
 
Penurunan harga SUN cenderung moderat seiring dengan adanya intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valas yang membuat rupiah ditutup menguat 0,16% ke level Rp14.833, setelah hampir sepanjang perdagangan cenderung terdepresiasi.
 
Adapun minat investor pada lelang SUN kemarin menurun dibandingkan lelang SUN dua pekan sebelumnya. Penawaran mencapai Rp36,88 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan lelang SUN sebelumnya yang mencapai Rp59,28 triliun.
 
Nominal yang dimenangkan pemerintah adalah Rp16,21 triliun, atau masih dalam target pemerintah yang sebesar Rp10 triliun-Rp20 triliun.
 
Weighted Average Yield (WAY) - the highest yield yang dimenangkan:
SPN03181213 (New Issuance, 13 December 2018):  5,57533% - 5,70000%
SPN12190913 (New Issuance, 13 September 2019): 6,34756% - 6,46000%
FR0063 (Reopening, 15 Mei 2023): 8,52820% - 8,58000%
FR0064 (Reopening, 15 Mei 2028): 8,66918% - 8,69000%
FR0065 (Reopening, 15 Mei 2033): 8,80531% - 8,87000%
FR0075 (Reopening, 15 Mei 2038): 9,15981% - 9,22000%
FR0076 (Reopening, 15 Mei 2048): 9,21923% - 9,26000%
 
Di pasar global, yield US Treasury 10 tahun dan indeks dolar AS turun. Data inflasi produsen AS (Producer Price Index/PPI) per Agustus 2018  turun ke level  2,8% secara year-on-year (yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 3,3% yoy.

Realisasi ini juga di luar ekspektasi pasar yang sebesar 3,2% secara yoy.
 
Secara bulanan, terjadi deflasi 0,1% month-on-month (mom) atau berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar dengan inflasi sebesar 0,2% secara mom.
 
Merespons data tersebut, indeks dolar AS turun ke level 94,81 poin dibandingkan dengan hari sebelumnya yang ada di kisaran 95,25 poin. 
 
Yield US Treasury, khususnya tenor 10 tahun, juga menurun ke level 2,96% dari sebelumnya 2,98%, merespons rilis data inflasi produsen meski cenderung terbatas. Hal itu seiring adanya momen lelang US Treasury 10 tahun dan antisipasi pasar jelang rilis data inflasi konsumen, berdasarkan indikator Indeks Harga Konsumen (IHK), malam ini.

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top