Rekomendasi Obligasi: Pelaku Pasar Cermati Sejumlah Faktor Eksternal

MNC Sekuritas memperkirakan peluang terjadinya penurunan imbal hasil di pasar obligasi cukup terbuka di tengah penurunan imbal hasil surat utang global pada perdagangan Kamis (13/9/2018).
Emanuel B. Caesario | 13 September 2018 09:35 WIB
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan peluang terjadinya penurunan imbal hasil di pasar obligasi cukup terbuka di tengah penurunan imbal hasil surat utang global pada perdagangan Kamis (13/9/2018).
 
Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan pelaku pasar masih akan mencermati beberapa faktor eksternal, di antaranya adalah European Central Bank (ECB) Meeting dan disampaikannya data ekonomi AS.
 
Kebijakan yang dinantikan dari ECB Meeting adalah keberlangsungan stimulus moneter dari ECB. 
 
Selain itu, perkembangan dari perang dagang antara AS dan China yang masih berlanjut akan turut menjadi perhatian investor.
 
"Kami masih merekomendasikan Surat Utang Negara (SUN) dengan tenor pendek dan menengah bagi investor dengan horizon investasi jangka pendek sebagai antisipasi terhadap gejolak perubahan harga di pasar sekunder, yang kami perkirakan masih berpeluang untuk mengalami penurunan," paparnya dalam riset harian, Kamis (13/9). 
 
Beberapa seri pilihan yang dapat dicermati oleh investor adalah ORI013, SR009, PBS016, PBS002, FR0069, FR0040, FR0056, FR0073, dan FR0054.
 
Pada Rabu (12/9), yield SUN bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan di tengah pelaksanaan lelang. Kemarin, pemerintah melelang seri SPN03181213 (new issuance), SPN12190913 (new issuance), FR0063 (reopening), FR0064 (reopening), FR0065 (reopening), FR0075 (reopening), dan FR0076 (reopening).
 
Perubahan tingkat imbal hasil cukup bervariasi, berkisar 1-15 bps dengan rata-rata kenaikan sebesar 2 bps. 
 
Imbal hasil SUN dengan tenor pendek relatif terbatas, kurang dari 1 bps dengan adanya perubahan harga antara 2-5 bps. Yield SUN tenor menengah mengalami kenaikan hingga 13 bps, didorong oleh adanya koreksi harga yang mencapai 55 bps. 
 
Adapun imbal hasil SUN dengan tenor panjang terlihat mengalami perubahan dengan kecenderungan mengalami kenaikan hingga 15 bps setelah adanya koreksi harga sebesar 100 bps.

Lelang SUN terlihat mendorong kenaikan yield SUN. Menjelang lelang, harga SUN di pasar sekunder cenderung turun sehingga imbal hasil naik.

Investor mengantisipasi hasil dari pelaksanaan lelang, di mana dalam beberapa kali lelang terakhir mengindikasikan bahwa pemerintah terlihat mengejar target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sehingga berdampak terhadap kenaikan imbal hasil yang dimenangkan dari pelaksanaan lelang.
 
Pemerintah meraup dana senilai Rp16,21 triliun dari  lelang tersebut.

Namun, investor terlihat masih berhati-hati dalam menempatkan dananya di SUN. Hal ini tercermin dari tingginya permintaan lelang pada instrumen bertenor pendek seperti Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang memiliki tenor 3 bulan dan 12 bulan. 
 
Jumlah penawaran yang masuk juga mengalami penurunan dibandingkan dengan lelang dua pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kondisi investor yang masih berhati-hati di tengah masih berfluktuasinya pergerakan nilai tukar rupiah. 

Secara keseluruhan, perubahan harga pada perdagangan kemarin telah mendorong terjadinya kenaikan yield SUN seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun sebesar 5 bps, masing-masing di level 8,397% dan 8,566%. 
 
Adapun imbal hasil seri acuan dengan tenor 15 tahun mengalami kenaikan hingga 12 bps di level 8,735%. 
 
Sementara itu yield dari seri acuan dengan tenor 20 tahun terlihat bergerak terbatas dengan mengalami penurunan imbal hasil kurang dari 1 bps di level 9,09%.
 
Dari perdagangan surat utang global, pada perdagangan kemarin, perubahan imbal hasilnya cenderung mengalami penurunan yang dipimpin oleh US Treasury. 
 
Imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 2,968% dan tenor 30 tahun ditutup turun di level 3,11% sebagai respon atas data ekonomi AS yang tidak sesuai dengan ekspektasi. 
 
Imbal hasil dari surat utang Jerman dan Inggris dengan tenor 10 tahun juga terlihat mengalami penurunan, masing-masing di level 0,407% dan 1,485%. 
 
Adapun imbal hasil surat utang Thailand, sebagaimana surat utang Indonesia, terlihat mengalami kenaikan ke level 2,831%.
 
Secara teknikal, harga SUN masih berada pada tren penurunan, sehingga peluang terjadinya penurunan harga masih terbuka dalam jangka pendek. Harga surat utang negara secara teknikal juga masih berada pada area jenuh jual (oversold) yang didapati pada keseluruhan tenor.
 

Tag : Obligasi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top