Permintaan Yield Peserta Lelang SUN Sangat Tinggi

Tingginya kekhawatiran investor terhadap volatilitas pasar menyebabkan investor cenderung lebih banyak memburu instrumen pasar uang dalam lelang surat utang negara (SUN) dan mematok permintaan yield yang tinggi terhadap seri-seri obligasi negara.
Emanuel B. Caesario | 13 September 2018 06:45 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Tingginya kekhawatiran investor terhadap volatilitas pasar menyebabkan investor cenderung lebih banyak memburu instrumen pasar uang dalam lelang surat utang negara (SUN) dan mematok permintaan yield yang tinggi terhadap seri-seri obligasi negara.

Berdasarkan pengumuman di laman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, total penawaran investor dalam lelang SUN yang digelar Rabu (12/9/2018) mencapai Rp36,88 triliun.

Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan lelang SUN 2 pekan sebelumnya yang mencapai Rp59,3 triliun. Hal tersebut wajar karena tekanan pasar yang terus meningkat. Padahal, pemerintah melepas 7 seri kali ini, lebih banyak dibandingkan dengan lelang sebelumnya 6 seri.

Dari 7 seri tersebut, sebanyak 2 seri merupakan seri pasar uang surat perbendaharaan negara (SPN) tenor 3 bulan dan 12 bulan. Sementara itu, sisanya adalah seri obligasi negara fixed rate yakni FR0063 (5 tahun), FR0064 (10 tahun), FR0065 (15 tahun), FR0075 (20 tahun), dan FR0076 (30 tahun).

Penawaran terbesar investor dalam lelang kali ini masuk pada seri tenor terpendek, yakni 2 seri SPN dan FR0063. SPN 3 bulan mendulang Rp12,2 triliun, SPN 12 bulan Rp7,85 triliun, dan FR0063 Rp8,29 triliun.

Selebihnya, pada seri-seri lainnya penawaran investor sangat terbatas, tertinggi pada FR0064 sebesar Rp3,83 triliun dan terendah pada FR0076  senilai Rp383 miliar.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa tingginya minat pada seri tenor pendek menunjukkan investor masih sangat menghindari risiko. Tingkat yieldyang diminta investor pada seri-seri ini pun cukup kompetitif.

Namun, pada seri-seri obligasi negara, investor cenderung meminta yield yang sangat tinggi dengan nominal penawaran yang terbatas. Ini mencerminkan tingkat kekhawatiran investor yang sangat tinggi terhadap pasar saat ini.

Meksi demikian, pemerintah memutuskan tetap menyerap penawaran investor ini, meskipun dengan konsekuensi harus memberikan yield yang tinggi. Tingkat rata-rata yield tertimbang yang dimenangkan jauh lebih tinggi dibandingkan pasar sekunder.

Total penyerapan pemerintah dalam lelang kali ini mencapai Rp16,21 triliun, lebih rendah dari lelang sebelumnya Rp20 triliun.

Made mengatakan, permintaan yield investor dalam lelang kali ini berada di atas proyeksi rentang permintaan yield yang disusun MNC Sekuritas sebelumnya. Hal ini menunjukkan tingginya tingkat kekhawatiran investor terhadpa risiko pasar.

Adapun, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk seri SPN yakni 5,57533 untuk SPN 3 bulan dan 6,34756 untuk SPN 12 bulan. Sementara itu, FR0063 mencapai 8,52820%, FR0064 mencapai 8,66918%, FR0065 mencapai 8,80531%, FR0075 mencapai 9,15981%, dan FR0076 mencapai 9,21923%.

Sebagai gambaran, yield FR0064 atau SUN 10 tahun di pasar sekunder pada perdagangan Senin (10/9/2018) sebelum lelang adalah di level 8,513% dan pada hari lelang Rabu (12/9/2018) di level 8,567%.

Artinya, selisih imbal hasil di pasar primer dan sekunder atas SUN 10 tahun mencapai 15,6 bps dibandingkan level yield terakhir sebelum lelang. Sementara itu, selisih SUN 5 tahun mencapai 17,3 bps, SUN 15 tahun 18,7 bps, SUN 20 tahun 10,5 bps, dan SUN 30 tahun 15,2 bps.

“Efek kenaikan yield ini ketika diterjemahkan ke dalam harga, pengaruhnya sangat signifikan. Beban pemerintah otomatis lebih tinggi karena biaya dananya meningkat,” katanya, Rabu (12/9).

Tag : lelang sun
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top