Kiwoom Sekuritas: Pergerakan Pasar SUN Dibatasi Lelang

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (12/9/2018).
Emanuel B. Caesario | 12 September 2018 08:44 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan dibuka menguat dengan potensi menguat terbatas pada perdagangan Rabu (12/9/2018).
 
Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan keterbatasan ini datang dari hadirnya lelang yang diadakan pemerintah pada hari ini. 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bakal melelang Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah dengan target indikatif Rp10 triliun, hari ini. Adapun target maksimalnya Rp20 triliun.

Seri yang akan dilelang adalah SPN03181213 (new issuance), SPN12190913 (new issuance), FR0063 (reopening), FR0064 (reopening), FR0065 (reopening), FR0075 (reopening), dan FR0076 (reopening).

Di tengah gejolak akan tingginya volatilitas pasar obligasi, para pelaku pasar dan investor bakal memilih mengikuti lelang sehingga lelang tersebut berpotensi mendatangkan penawaran antara Rp25 triliun-Rp30 triliun. 
 
Dia melanjutkan nilai tersebut memang tidak terlalu banyak karena ada beberapa data ekonomi yang keluar dalam waktu dekat.
 
Inflasi AS dan Initial Jobless Claims, yang mengukur klaim tunjangan pengangguran, akan keluar pada pekan ini. Rapat The Fed pada bulan ini juga turut dinanti pasar.

Sementara itu, pekan depan akan keluar data ekspor dan impor Indonesia. 

Beberapa faktor ini pun memberikan potensi tekanan kepada pasar obligasi dalam negeri untuk mengalami pelemahan. 

Kiwoom Sekuritas menambahkan di tengah maraknya berita tentang kondisi ekonomi Indonesia, Nomura Holding memberikan informasi bahwa Indonesia memiliki risiko terkecil dari negara emerging market lainnya. 
 
"Kami merekomendasikan ikuti lelang hari ini dan jangan lupakan FR0076," ungkap Nico dalam riset harian, Rabu (12/9).

Pada perdagangan sebelumnya, total transaksi dan frekuensi turun dibandingkan hari sebelumnya jelang libur. 

Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi kurang dari 1 tahun, lalu diikuti tenor 15-20 tahun dan 7-10 tahun. Sisanya. merata di semua tenor hingga 20 tahun. 
 
Obligasi 20 tahun hingga di atas 25 tahun juga aktif ditransaksikan, meskipun dalam jumlah yang kecil. 
 
Pasar obligasi kemarin tidak mampu berbuat banyak, minimnya sentimen dan hadirnya lelang membuat para pelaku pasar dan investor menahan transaksi.
 
Sementara itu, pada pasar global imbal hasil obligasi zona Amerika ditutup bervariasi dengan didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan imbal hasil terbesar ada di Brazil yang tumbuh 12,46%, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Chile yang menyusut 4,79%.
 
Imbal hasil wilayah zona Eropa juga ditutup bervariasi, didominasi oleh kenaikan imbal hasil. Kenaikan yield terbesar ada di Italia dengan 2,93% dan penurunan terbesar tercatat terjadi di Yunani yakni sebesar 4,03%.
 
Imbal hasil Asia Pasifik pun ditutup bervariasi, didominasi kenaikan yield. Kenaikan tertinggi terjadi di India yang meningkat 8,18%, sedangkan penurunan terbesar di Korea Selatan yang menyusut 2,23%.
 
Adapun imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup melemah di posisi 8,57% dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 8,45%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top