Bursa Susun Indeks Baru, Ini Perinciannya

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah satu indeks. Rencananya, peluncuran indeks baru ini akan dilakukan pada Januari tahun depan.
Tegar Arief | 12 September 2018 17:01 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (23/8/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menambah satu indeks. Rencananya, peluncuran indeks baru ini akan dilakukan pada Januari tahun depan.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan, indeks baru ini akan mempertimbangkan dua hal, yakni likuiditas emiten serta penyebaran saham perseroan ke investor ritel atau free float.

Penyusunan indeks berdasarkan likuiditas dan free float ini dilakukan atas permintaan para manajer investasi. Alasannya, banyak fund manager global menyajikan produk reksa dana dengan mengacu pada indeks seperti ini.

"Kami sudah melakukan forum grup diskusi [FGD] dengan fund manager terkait hal ini. Pengujian akan dilakukan pada kuartal IV/2018 dan peluncuran kemungkinan awal tahun depan," katanya, di BEI, Rabu (12/9/2018).

Kata dia, sejumlah indeks yang dirilis di pasar modal negara lain menggunakan dua acuan itu, misalnya FTSE dan MSCI. Inilah dasar bursa melakukan langkah serupa. Selain itu, indeks ini juga ditujukan untuk memberikan keragaman acuan untuk produk reksa dana.

Dia menambahkan, saat ini otoritas pasar modal masih belum menentukan spesifikasi umum dari indeks tersebut, termasuk jumlah emiten yang nanti akan ditampung.

Namun yang pasti, kata Hasan, jumlah konstituen tidak lebih dari 70 emiten. "Mereka manajer investasi merasa mudah untuk mengatur portofolio kalau jumlah konstituen itu di atas 50 emiten dan di bawah 70 emiten," sambungnya.

Bursa juga belum menghitung minimal kapitalisasi pasar bagi emiten yang akan menghuni indeks baru ini. Adapun batas minimal free float juga masih terus difinalisasi oleh tim di pasar modal. Yang jelas, persentase di atas ambang batas yang dipersyaratkan yakni 7,5%. "Tujuannya selain untuk memperbanyak reksa dana indeks ini betul-betuk menjadi acuan tidak hanya portofolio untuk investor individu tapi juga fund manager," ujarnya.

Belakangan, otoritas pasar modal memang gencar menerbitkan indeks baru. Pasalnya, minat pasar terhadap produk reksa dana indeks dan juga Exchange Traded Fund (ETF) kian meningkat sehingga bursa merasa perlu menambah benchmark.

Beberapa waktu lalu, bursa juga meluncurkan tiga indeks baru yakni IDX High Dividend 20, IDX BUMN20 yang mengacu pada emiten-emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Jakarta Islamic Index 70.

Di sisi lain, bursa juga akan melakukan redefinisi indeks sektoral. Redefinisi ini, kata Hasan, dilakukan untuk menyesuaikan makna dari masing-masing sektor dengan ketentuan yang ada. "Nanti maknanya disesuaikan misal dengan Bappenas, BPS, atau termasuk juga Bloomberg. Tentu arahnya kemungkinan akan ada indeks sektor baru," kata Hasan.

Nantinya, bursa akan menyusun indeks dari sektor-sektor yang ada di dalam pasar saham. Kemudian diantara sektor itu nanti akan terdapat produk turunan atau subsektor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Indeks BEI

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top