MNC Sekuritas: SUN Dolar Cenderung Lebih Tertekan

MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Senin (10/9/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN akan beregrak terbatas dengan adanya peluang untuk mengalami penurunan. Terutama Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, seiring dengan kenaikan imbal hasil dari US Treasury.
Emanuel B. Caesario | 10 September 2018 09:25 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Senin (10/9/2018) harga Surat Utang Negara atau SUN akan beregrak terbatas dengan adanya peluang untuk mengalami penurunan. Terutama Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, seiring dengan kenaikan imbal hasil dari US Treasury.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa pergerakan harga Surat Utang Negara juga akan dipengaruhi oleh rencana lelang penjualan Surat Utang Negara pada hari Rabu. 

Pemerintah menargetkan penerbitan Surat Utang Negara senilai Rp10 triliun dari tujuh seri Surat Utang Negara yang ditawarkan kepada investor. 

Seri-seri yang akan dilelang yakni seri SPN03181213 (New Issuance), SPN12190913 (New Issuance), FR0063 (Reopening), FR0064 (Reopening), FR0065 (Reopening, FR0075 (Reopening) dan FR0076 (Reopening).

Sementara itu, dari faktor eksternal, investor akan menantikan data ekonomi Amerika Serikat yang akan disampaikan pada pekan ini, yaitu data inflasi yang akan disampaikan pada hari Kamis, 13 September 2018 dan diikuti oleh data penjualan ritel pada hari Jum'at, 14 September 2018. 

Kedua data tersebut akan menjadi pertimbangan Bank Sentral Amerika dalam menentukan kebijakan moneternya pada pelaksanaan FOMC Meeting di 25 - 26 September 2018.

Dengan pertimbangan beberapa faktor tersebut, Made menyarankan kepada investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder. 

Menurutnya, potensi koreksi harga perlu dicermati terlebih di tengah kembali naiknya imbal hasil dari US Treasury. 

"Kami masih merekomendasikan Surat Berharga Negara dengan tenor pendek dan menengah yang menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik di tengah pergerakan harga Surat Utang Negara yang masih berfluktuasi," katanya dalam riset harian, Senin (10/9/2018).

Beberapa pilihan tersebut di antaranya adalah ORI013, SR009, PBS016, PBS002, FR0069, FR0036, FR0043, FR0046, FR0070, FR0040 dan FR0056.

Selama sepekan ke depan, terdapat surat utang yang akan jatuh tempo senilai Rp5,65 triliun yang akan menambah likuiditas di pasar.

Review Pasar Terakhir

Jelang disampaikannya data cadangan devisa, imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan hari Jum'at, 7 September 2018 bergerak bervariasi.

Perubahan arah tingkat imbal cukup bervariasi dengan rata - rata mengalami penurunan sebesar 4 bps. 

Imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor pendek mengalami penurunan hingga sebesar 18 bps dengan didorong oleh adanya kenaikan harga hingga sebesar 40 bps. 

Sementara itu, imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor menengah cenderung mengalami kenaikan hingga sebesar 10 bps dengan didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 60 bps. 

Adapun imbal hasil Surat Utang Negara dengan tenor panjang mengalami perubahan berkisar antara 1 - 10 bps dengan rata - rata mengalami penurunan imbal hasil sebesar 5 bps yang didorong oleh adanya perubahan harga hingga sebesar 65 bps.

Kecenderungan penurunan imbal hasil Surat Utang Negara pada perdagangan di akhir pekan kemarin didorong oleh faktor pergerakan nilai tukar rupiah yang relatif stabil di awal perdagangan dan terus menunjukkan penguatan hingga berakhirnya sesi perdagangan. 

Meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah tersebut mendorong investor untuk melakukan akumulasi terhadap Surat Utang Negara setelah mengalami koreksi harga yang cukup besar di awal pekan. 

Selain itu, membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS), turut menjadi katalis positif pada perdagangan di akhir pekan. 

Namun demikian, akumulasi pembelian oleh investor pada perdagangan tersebut tidak didukung oleh volume perdagangan yang cukup besar, dikarenakan investor masih menantikan data cadangan devisa yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia. 

Selain itu, terbatasnya akumulasi oleh investor juga dipengaruhi oleh rencana lelang penjualan Surat Utang Negara yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 12 September 2018.

Secara keseluruhan, pada perdagangan di akhir pekan kemarin, imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun mengalami penurunan sebesar 7 bps dan 8 bps masing - masing di level 8,33% dan 8,42%. 

Adapun imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 15 tahun dan 20 tahun mengalami penurunan sebesar 5 bps dan 4 bps dengan tingkat imbal hasil masing - masing sebesar 8,60% dan 9,05%.
 
Namun demikian, dalam sepekan terakhir, pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara rata - rata mengalami kenaikan sebesar 50 bps setelah mengalami koreksi harga yang cukup besar di awal pekan seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika.

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika, perubahan tingkat imbal hasilnya juga cenderung mengalami penurunan seiring dengan penurunan imbal hasil surat utang global serta membaiknya persepsi risiko, dimana penurunan imbal hasil terjadi pada hampir keseluruhan seri Surat Utang Negara. 

Imbal hasil dari INDO23 mengalami penurunan sebesar 2 bps di level 4,078% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 8 bps. Adapun imbal hasil dari INDO28 dan INDO43 mengalami penurunan sebesar 1 bps, masing - maisng di level 4,523% dan 5,078% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 10 bps dan 15 bps.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp7,20 triliun dari 31 seri Surat Berharga Negara dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,72 triliun. 

Obligasi Negara seri FR0059 menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp1,17 triliun dari 33 kali transaksi di harga rata - rata 90.01% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0065 senilai Rp903,68 miliar dari 24 kali transaksi di harga rata - rata 83,34%. 

Adapun Project Based Sukuk seri PBS013 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp135,74 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata - rata 99,10% dan diikuti oleh perdagangan PBS012 senilai Rp120 miliar dari 15 kali transaksi di harga rata - rata 99,56%.

Sementara itu dari perdagangan obligasi korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai 819,93 miliar dari 53 seri obligasi korporasi yang diperdagangkan. 

Obligasi Berkelanjutan III Tower Bersama Infrastructure Tahap I Tahun 2018 (TBIG03CN1) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp100 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata - rata 100,01% dan diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan I Jasa Marga Tahap II Tahun 2014 Seri T (JSMR01CN2T) senilai Rp75 miliar dari 13 kali transaksi di harga rata - rata 101,62%.

Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika ditutup menguat sebesar 73,00 pts (0,49%) pada level 14820,00 per Dollar Amerika. Beregrak dengan kecenderungan mengalami penguatan sejak awal perdagangan, nilai tukar rupiah pada akhir pekan bergerak pada kisaran 14820,00 hingga 14907,00 per Dollar Amerika. 

Mata uang Rupiah memimpin penguatan mata uang regional pada perdagangan di akhir pekan, yang diikuti oleh penguatan Rupee India (INR) sebesar 0,41% dan Peso Philipina (PHP) sebesar 0,13%. 

Penguatan nilai tukar rupiah terjadi jelang disampaikannya data cadangan devisa bulan Agustus 2018 oleh Bank Indonesia. 

Bank Indonesia menyampaikan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia cukup tinggi sebesar USD117,9 miliar pada akhir Agustus 2018, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan USD118,3 miliar pada akhir Juli 2018. 

Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,8 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Namun demikian, meskipun mengalami penguatan di akhir pekan, rata - rata mata uang regional mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika di sepanjang pekan kemarin, dengan pelemahan terbesar dipimpin oleh mata uang Rupee India (INR) sebesar 0,97% serta diikuti oleh mata uang Ringgit Malaysia (MYR) dan mata uang Won Korea Selatan (KRW) masing - masing sebesar 0,89%. 

Adapun mata uang rupiah dalam sepekan mengalami pelemahan sebesar 0,61% di tengah tren pelemahan mata uang negara - negara berkembang di tengah kekhawatiran terhadap krisis perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Dari perdagangan surat utang global, pergerakan imbal hasilnya pada perdagangan di akhir pekan bergerak bervariasi dimana imbal hasil dari US Treasury dengan tenor 10 tahun mengalami kenaikan di level 2,93% dan tenor 30 tahun di level 3,10% setelah data sektor tenaga kerja Amerika Serikat mengalami pertumbuhan lebih baik dari yang diperkirakan. 

Adapun imbal hasil dari surat utang Jerman (Bund) dan Inggris (Gilt) dengan tenor 10 tahun masing - masing juga mengalami kenaikan di level 0,388% dan 1,452%. 

Sementara itu surat utang global yang mengalami penurunan sebagaimana Surat Utang Indonesia diantaranya adalah surat utang India yang turun ke level 8,012% dan surat utang Malaysia yang turun ke level 4,147%.

Adapun secara teknikal, pergerakan harga Surat Utang Negara masih berada pada tren penurunan meskipun mengalami kenaikan harga dalam dua hari perdagangan terakhir. 

Selain itu, harga Surat Utang Negara mulai terlihat meninggalkan area jenuh jual (oversold) seiring dengan kenaikan harga yang terjadi.

Tag : sun
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top