Kebijakan Ekspor Rusia Tahan Penguatan Harga Gandum

Perdagangan berjangka gandum di amerika Serikat kembali menghijau setelah merosot ke posisi terendah selama sepekan saat Kementerian Pertanian Rusia mengatakan tidak berencana menahan ekspor dari negara produsen gandum terbesar di dunia itu.
Mutiara Nabila | 05 September 2018 20:16 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Perdagangan berjangka gandum di amerika Serikat kembali menghijau setelah merosot ke posisi terendah selama sepekan saat Kementerian Pertanian Rusia mengatakan tidak berencana menahan ekspor dari negara produsen gandum terbesar di dunia itu.

Harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) pada Rabu (5/9) tercatat mengalami kenaikan 1,8 poin atau 0,33% mejadi US$533,30 sen per bushel dan tercatat naik 18,56% sepanjang 2018. Pada sesi sebelumnya harga gandum melorot hingga 2,5%.

Selain itu, komoditas jagung menghijau 1 poin atau 0,27% menjadi US$369,25 sen per bushel dan tercatat naik 1,35% secara year-to-date (ytd) karena Argentina yang berencana untuk menaruh pajak ekspor sebesar 10,2% untuk komoditas biji-bijian, yang diperkirakan bisa mendorong permintaan dari luar negeri untuk pasokan dari AS.

Kemudian, harga kedelai tercatat naik 2,25 poin atau 0,27% menjadi US$846,50 sen per bushel dengan penurunan secara ytd sebanyak 12,35%.

Meskipun rebound, penguatan harga gandum tertahan karena Menteri Pertanian Rusia Aleksandr Tchakov mengatakan bahwa penerapan pajak ekspor atau menahan ekspor biji-bijian dari Rusia dirasa belum perlu.

Penguatan dolar AS, yang menguatkan pernyataan bahwa AS tetap akan menjadi pemasok utama global, juga semakin menekan pasar gandum. Kenaikan dolar AS tak terhentikan karena kekhawatiran pasar akan emerging markets dan kelanjutan perang dagang antara AS dan China.

Penguatan dolar AS juga dinilai membuat pasokan gandum AS menjadi semakin mahal bagi pembeli dari luar negeri.

“Harga gandum tidak akan naik terlalu jauh, bisnis ekspor akan tetap konsisten kecuali hingga seluruh dunia benar-benar kehabisan pasokan,” ungkap Mark Schultz, kepala analis Northstar Commodity Investment Co., dilansir dari Reuters, Rabu (5/9/2018).

Penurunan produksi gandum Rusia dan laju ekspor yang cepat pada awal musim telah menjadi pendorong harga saat ini dan memicu spekulasi bahwa pemasok gandum terbesar di dunia itu akan segera kehabisan pasokannya.

“Pasar telah membangun risiko premi masuk dalam pembahasan dalam pertamuan dengan Menteri Pertanian Rusia, karena topi utama yang tengah ramai dibicarakan saat ini adalah pengurangan ekspor, dan yang terjadi sekarang justru kebalikannya,” papar Don Roose, Kepala Komoditas AS di Iowa.

Kabar dari Rusia bisa saja membayangi peristiwa yang ada di Argentina, ketika para petani dan konsultannya mengatakan akan menunda penjualan gandumnya dan menanam jagung dengan jumlah yang lebih sedikit tahun ini, setelah pemerintahnya mengumumkan akan menaruh pajak ekspor 10% untuk komoditas biji-bijian sebagai salah satu upaya penghematan anggaran.

Tag : komoditas, gandum
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top