Ekonomi China Bikin Nikel Anjlok ke Level Terendah Dalam 7 Bulan

Nikel anjlok ke level terendahnya lebih dari tujuh bulan, tertekan oleh kekhawatiran perekonomian China, kenaikan tensi perang dagang, dan pelemahan harga baja.
Mutiara Nabila | 04 September 2018 17:23 WIB
Nikel - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Nikel anjlok ke level terendahnya lebih dari tujuh bulan, tertekan oleh kekhawatiran perekonomian China, kenaikan tensi perang dagang, dan pelemahan harga baja.

Caixin/Markit Manufacturing Purchasing Managers’ Index (Caixin PMI) menunjukkan aktivitas manufaktur di China, konsumen terbesar logam industri, bertumbuh pada bulan lalu karena mengalami pelemahan mata uang lebih dari setahun, dengan ekspornya yang menyusut dalam lima bulan terakhir dan sejumlah perusahaan yang memangkas jumlah pekerjanya.

“Saya terkejut kalau harga logam naik, melihat kombinasi Caixin PMI China, lambatnya perkembangan Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara [NAFTA], dan aksi berbalas tarif antara AS dan China,” ujar Caroline Bain, ekonom komoditas Capital Economics di London, dikutip dari Reuters, Selasa (4/9/2018).

Harga nikel berkaitan erat dengan industri baja yang selama ini terus terdampak perang tarif. Bain menilai, harga nikel yang terpukul saat ini merupakan akibat dari perang tarif itu.

Selain itu, faktor yang semakin memberatkan harga nikel yang biasa digunakan dalam pembuatan baja adalah kemerosotan harga baja konstruksi rebar di Shanghai setelah mengalami kinerja terburuk mingguan sejak akhir Maret.

Harga acuan nikel di bursa London Metal Exchange (LME) pada Selasa (4/9) merosot ke posisi US$12.695 per ton, terendah sejak 23 Januari, sebelum kembali ke posisi US$12.790 per ton. Harga tersebut mencatatkan penurunan 0,1% dari penutupan sesi sebelumnya, dan melanjutkan penurunan 3,7% pada Jumat (31/8).

Selain nikel, tembaga juga merosot ke level terendahnya sejak 23 Agustus lalu ke posisi US$5.950,50 per ton sebelum kembali ke posisi US$5.967 per ton, turun 0,1% dari penutupan hari sebelumnya. Harga tembaga pada penutupan Jumat lalu anjlok 1,5%, melanjutkan penurunan 5,5% sepanjang Agustus.

Penurunan tersebut merupakan yang terparah dalam dua tahun terakhir dan mencatatkan penurunan bulanan tiga kali berturut-turut.

“Secara histors, penurunan 1% pada pertumbuhan perdagangan global akan berdampak penurunan 4% pada harga tembaga. Jika pertumbuhan perdagangan dari April anjlok 4,4% secara year-on-year [yoy] ke rata-rata 2015/2016 1,7%, harga tembaga bisa terkoreksi hingga 10,8% ke posisi US$5.400 per ton,” ujar Michael Widmer, analis Bank of America Merrill Lynch.

Sementara itu, seng tercatat naik 0,2% ditutup pada posisi US$2.463 per ton. “Kami mencatatkan ada kenaikan tajam dalam premium harga seng di bursa Shanghai dari US$160 per ton menjadi US$230 per ton,” kata Alastair Munro, pialang Marex Spectron.

Adapun, timah hitam atau lead LME menjadi logam dengan kinerja terkuat, melonjak 2,1% ditutup dengan harga US$2.121 per ton karena persediaannya yang terus merosot. Harganya menyentuh puncak intraday di posisi US$2.131,50 per ton, tertinggi sejak 9 Agustus.

Selain itu, aluminium mencatatkan penurunan 1,3% menjadi US$2.097 per ton, dan timah merosot 0,8% menjadi US$18.840 per ton.

Tag : komoditas, nikel
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top