Rupiah Seret IHSG Perpanjang Pelemahan Pada Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperpanjang pelemahannya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (4/9/2018), saat nilai tukar rupiah terus berada di kisaran level terlemahnya dalam dua dekade terhadap dolar AS.
Renat Sofie Andriani | 04 September 2018 13:09 WIB
Karyawati mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Dealing Room Bank Permata, Jakarta, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperpanjang pelemahannya pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (4/9/2018), saat nilai tukar rupiah terus berada di kisaran level terlemahnya dalam dua dekade terhadap dolar AS.

IHSG melemah 0,72% atau 42,96 poin ke level 5.924,62 pada akhir sesi I. Setelah sempat rebound ke zona hijau dengan dibuka naik 0,12% atau 7,18 poin di posisi 5.974,76 pagi tadi, indeks berbalik arah dan tertekan di wilayah negatif.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.924,12 – 5.978,73.

Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 89 saham menguat, 243 saham melemah, dan 269 saham stagnan dari 601 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Seluruh sembilan indeks sektoral IHSG menetap di wilayah negatif dengan tekanan utama sektor industri dasar (-1,24%), perdagangan (-1,07%), dan finansial (-0,96%).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau masih bertahan di level Rp14.780 per dolar AS pada pukul 12.17 WIB setelah rebound 35 poin atau 0,24%.

Pagi tadi rupiah dibuka dengan depresiasi tipis 8 poin atau 0,05% di posisi 14.823. Adapun pada perdagangan Senin (3/9), rupiah berakhir melemah tajam 105 poin atau 0,71% di level Rp14.815 per dolar AS.

Rupiah memperpanjang pelemahannya saat investor lanjut melepaskan kepemilikan mata uang ini di tengah aksi jual pada aset-aset negara berkembang. Meski siang ini rebound, posisi mata uang Garuda masih berada di kisaran level terlemahnya dalam 20 tahun.

“Rupiah baru-baru ini telah menghadapi tekanan jual sebagai hasil dari sentimen penghindaran aset berisiko untuk mata uang emerging markets berikut penurunan lebih lanjut pada peso Argentina,” jelas OCBC Bank, seperti dikutip Bloomberg.

Nanang Hendarsah, Direktur Eksekutif Manajemen Moneter di Bank Indonesia (BI) mengatakan bank sentral akan memperkenalkan lebih banyak instrumen hedging demi membantu menjaga rupiah dari pelemahan lebih lanjut.

BI berencana untuk segera memperkenalkan overnight index swap (OIS) dan interest rate swap (IRS) untuk memperluas instrumen hedging bagi investor, eksportir, dan bank.

Bersama IHSG, indeks saham lainnya di Asia Tenggara mayoritas juga melemah siang ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,09%), indeks SE Thailand (-0,21%), dan indeks FTSE Malay KLCI (-0,18%).

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing turun 0,17% dan 0,16%. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,30%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,12% dan 0,22%.

Secara keseluruha, bursa Asia tertekan potensi memanasnya perselisihan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China berikut pergolakan yang mencengkeram emerging markets.

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top