Rupiah Sentuh Level Terendah sejak Krisis 1998

Nilai tukar tukar rupiah ditutuip melemah 105 poin atau 0,71% ke level Rp14.815 per dolar AS, terendah sejak Juni 2018. Di awal perdagangan dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,24% di posisi Rp14.745.
Aprianto Cahyo Nugroho | 03 September 2018 17:23 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah menyentuh level terendahnya sejak krisis moneter 20 tahun lalu pada perdagangan hari ini, Senin (3/9/2018).

Nilai tukar tukar rupiah ditutuip melemah 105 poin atau 0,71% ke level Rp14.815 per dolar AS, terendah sejak Juni 2018. Di awal perdagangan dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,24% di posisi Rp14.745.

Mata uang Garuda telah melemah pada perdagangan hari kelima berturut-turut, setelah ditutup turun 0,2% atau 30 poin ke level Rp14.710 pada perdagangan Jumat (31/8/2018).

Rupiah menjadi mata uang yang melemah paling dalam pada perdagangan hari ini, disusul ringgit Malaysia yang melemah 0,50%.

Sepanjang tahun ini, rupiah mencatat kinerja terburuk kedua dibandingkan dengan mata uang lainnya di kawasan Asia. Rupiah telah melemah 8,5% sejak awal tahun 2018, hanya di bawah rupee India yang melemah 9,88%.

Ekonom Senior Indef, Faisal Basri mengatakan penyebab fundamental pelemahan rupiah adalah defisit akun lancar. Berapa pun besaran defisit akun lancar, rupiah tertekan.

“Hanya saja, tekanan sedikit mereda jika arus masuk modal asing (capital inflows) melebihi defisit akun lancar seperti terjadi pada 2014, 2016, dan 2017. Karena arus modal masuk lebih banyak berupa “uang panas” alias investasi portofolio,” ungkap Faisal, seperti dilansir Bisnis.com, Senin (3/9/2018).

Faisal menambahkan, pergerakan rupiah juga sangat rentan terhadap tekanan eksternal. Sedikit saja terjadi gejolak keuangan global, rupiah akan tertekan. Sedikit saja terjadi gejolak keuangan global, rupiah langsung lunglai, yang kerap dijadikan kambing hitam oleh para pembuat kebijakan ekonomi.

Ketika cadangan devisa melorot sebanyak US$13,7 miliar dalam 6 bulan terakhir—yang antara lain digunakan untuk menahan kemerosotan rupiah—dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-day repo rate) sudah dinaikkan empat kali sebesar 125 basis poin dalam rentang waktu 3 bulan, rupiah terus melemah sehingga pemerintah meluncurkan serangkaian kebijakan, ungkap Faisal.

Sementara itu, head of trading wilayah Asia Pacific di Oanda, Stephen Innes mengatakan, defisit neraca perdagangan Indonesia dan ketergantungan terhadap impor minyak juga turun menjadi penekan rupiah.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) selama Agustus 2018 mengalami deflasi sebesar 0,05%.

Pencapaian ini lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,28%. Adapun inflasi tahunan dan tahun kalendernya masing-masing tercatat sebesar 2,13% dan 3,2%.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan angka ini sangat mengembirakan karena masih di bahwa 3,5%.

"Kalau lihat trennya pada 2018, inflasi relatif terkendali di mana inflasi tahunannya pada Agustus mencapai 3,2% atau lebih rendah dibandingkan inflasi Agustus 2017 yang sebesar 3,82%," paparnya dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (3/9/2018). 

Pertahankan Investment Grade

Secara terpisah, l

embaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch) mempertahankan peringkat Indonesia di level layak investasi atau investment grade pada 2 September 2018.

Dalam siaran persnya, Fitch memberikan afirmasi atas Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB/outlook stabil. 

Beberapa faktor kunci yang mendukung keputusan tersebut, yaitu beban utang pemerintah yang relatif rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang baik di tengah tantangan sektor eksternal yang antara lain berasal dari tingginya ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal serta indikator struktural lainnya yang masih di bawah negara peers.

Fitch juga menyoroti langkah yang ditempuh Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga kebijakan dan intervensi di pasar valas sebagai respons dari tekanan yang dialami oleh negara-negara emerging dinilai mencerminkan komitmen yang kuat untuk menjaga stabilitas.

Dalam hal ini, Fitch melihat fokus otoritas yang memprioritaskan stabilitas makroekonomi telah menjadi faktor utama yang mendukung perbaikan rating Indonesia oleh Fitch pada Desember 2017. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menanggapi afirmasi rating Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil merupakan cerminan keyakinan lembaga rating atas perekonomian Indonesia. 

"Komitmen yang kuat dalam menjaga stabilitas dan memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut mencerminkan kebijakan otoritas yang kredibel," kata Perry dalam siaran pers, Senin (3/9).

Tag : nilai tukar rupiah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top