Kiwoom Sekuritas: Pilih Obligasi Jangka Pendek dan Panjang  

Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan bergerak bervariasi pada Selasa (28/8/2018), mengingat akan hadirnya lelang Surat Utang Negara (SUN) hari ini. 
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  08:58 WIB
Kiwoom Sekuritas: Pilih Obligasi Jangka Pendek dan Panjang  
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Kiwoom Sekuritas Indonesia memperkirakan pasar obligasi akan bergerak bervariasi pada Selasa (28/8/2018), mengingat akan hadirnya lelang Surat Utang Negara (SUN) hari ini. 

Pemerintah akan melelang SUN seri SPN03181129, SPN12190829, FR0063, FR0064, FR0065, dan FR0075. Tingkat kupon untuk empat seri terakhir masing-masing 5,625%, 6,125%, 6,625%, dan 7,5%.

Target indikatifnya Rp10 triliun dan target maksimalnya Rp20 triliun. 

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan hasil akhir lelang SUN hari ini akan mempengaruhi pergerakan obligasi sehingga pasar akan cenderung terkonsentrasi ke sana.
 
"Dengan seri yang diperdagangkan merupakan semua obligasi acuan, kami memperkirakan total penawaran yang masuk berkisar Rp30 triliun-Rp35 triliun," terangnya dalam riset harian, Selasa (28/8).
 
Meski demikian, permintaan imbal hasil yang terlalu tinggi berpotensi tidak akan diserap sepenuhnya oleh pemerintah.
 
Nico menuturkan Bank Indonesia (BI) telah menyampaikan bahwa pemilihan presiden yang akan datang tidak akan mencegah bank sentral Indonesia untuk terus menaikkan tingkat suku bunga apabila diperlukan.

BI menegaskan akan bersifat independen dan setiap tindakan kebijakan di masa depan akan ditentukan oleh data ekonomi. Mereka juga menyampaikan bahwa masih ada ruang untuk menaikkan tingkat suku bunga karena tekanan global masih ada.
 
Bank sentral Indonesia pun melihat Fed Rate masih berpotensi naik 2 kali pada tahun ini dan 2 kali lagi pada 2019. 

Sejauh ini, BI telah menggunakan cadangan devisa lebih dari 10% untuk melakukan intervensi penurunan mata uang rupiah. Bank sentral Indonesia ingin rupiah dapat terdepresiasi secara bertahap sepanjang nilai rupiah masih sejalan dengan nilai fundamentalnya.
 
"Kami melihat BI hampir selalu mengingatkan bahwa mereka terus hadir di pasar untuk menjaga kepercayaan pasar. Kami merekomendasikan hold hari ini, ikuti lelang, pilihlah obligasi jangka pendek dan panjang," paparnya.
 
Sementara itu, pada perdagangan Senin (27/8), total transaksi dan frekuensi turun dibandingkan hari sebelumnya di tengah bervariasinya harga serta penantian lelang yang diadakan hari ini.
 
Total transaksi didominasi oleh obligasi berdurasi 3-5 tahun, diikuti dengan tenor di bawah 1 tahun dan 15-20 tahun. Sisanya merata di semua tenor hingga 20 tahun.
 
Minimnya aktivitas transaksi kemarin, membuat pasar obligasi terlihat stagnan. Kombinasi transaksi obligasi berdurasi jangka pendek dan panjang terlihat guna mempersiapkan kenaikkan Fed Rate pada bulan depan.
 
Di pasar global, imbal hasil obligasi zona Amerika ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan imbal hasil. Kenaikkan yield terbesar ada di Kanada yakni sebesar 2,29%, sedangkan penurunan tertinggi ada di Brazil yang mencapai 11,98%.
 
Imbal hasil wilayah zona Eropa naik di semua negara, dengan pertumbuhan tertinggi ada di Slovenia setelah naik 1,22%.
 
Imbal hasil Asia Pasifik ditutup bervariasi, didominasi oleh penurunan yield. Kenaikkan terbesar terjadi di India yakni sebesar 7,89%, sedangkan penurunan tertinggi ada di Thailand yang turun 2,69%.
 
Sementara itu, imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup melemah di level 7,95%, lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level 7,94%. Imbal hasil obligasi 20 tahun menguat tipis 8,37% dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar 8,39%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup