Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penurunan Jumlah Rig di AS Stabilkan Harga Minyak

Harga minyak bertahan pada kisaran US$68 per barel karena perlambatan aktivitas pengeboran minyak di Amerika dan optimisme investor setelah muncul solusi pada kebutuan perdagangan antara Amerika Serikat dan Meksiko.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  21:24 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bertahan pada kisaran US$68 per barel karena perlambatan aktivitas pengeboran minyak di Amerika dan optimisme investor setelah muncul solusi pada kebutuan perdagangan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan Senin (27/8) memerah tipis 0,02 poin atau 0,03% menjadi US$68,70 per barel dan naik 13,70% secara year-to-date (ytd). Pada perdagangan Jumat (24/8) harganya sempat naik 1,3% dari sesi sebelumnya.

Adapun, harga minyak Brent tercatat turun 0,03 poin atau 0,04% menjadi US$75,79 per barel dan naik 13,34% selama tahun berjalan.

Berdasarkan data Baker Hughes, rig minyak aktif di AS berkurang terbanyak sejak 2016 pada pekan lalu. Sementara itu, AS dan Meksiko siap menyelesaikan kesenjangan bilateralnya di atas Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika (Nafta) pada Senin ini setelah menemukan terobosan pada isu sektor kendaraan dan energi.

Minyak mentah lanjut diperdagangkan di bawah US$70 per barel pada bulan ini karena perang dagang antara AS dan China, ditambah dengan ancaman dari krisis Turki, memberikan beban pada harga minyak.

Namun, pertumbuhan produksi minyak mentah AS yang melambat dan hambatan saluran pipa menambah risiko pasokan setelah Presiden AS Donald Trump menjatuhkan sanksi pada ekspor minyak dari Iran yang mulai aktif berlaku pada November mendatang, beriringan dengan penyusutan pasokan global.

“Penurunan jumlah rig AS dan penurunan cadangan minyak AS pada pekan lalu sempat memberikan dorongan pada harga minyak, di tengah perang dagang yang semakin memanas antara AS dan China yang diperkirakan akan menghambat pertumbuhan ekonomi gobal dan menurunkan permintaan minyak,” ungkap Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia – Pasifik Oanda Corp.

Menurut Innes, pasar minyak masih berpotensi terdorong oleh sanksi AS terhadap Iran.

Komisi Teknikal Gabungan dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sejumlah produsen lainnya dijadwalkan untuk kembali melakukan peninjauan pada kebijakan pemangkasan produksi minyak pada Senin ini. OPEC dan sekutunya saat ini mengembalikan hasil produksinya menjadi 100% setelah melakukan pemangkasan produksi besar-besaran.

Rig minyak aktif di AS turun sembilan unit menjadi 860 unit pada pekan lalu. Operator Bakken memimpin penurunan rig tersebut dengan menutup empat unit di Dakota Utara. Hal itu terjadi setelah cadangan minyak AS tergelincir melebihi perkiraan pada pekan 17 Agustus lalu.

Sementara itu, AS, Kanada, dan Meksiko telah bernegosiasi selama setahun belakangan untuk memeriksa Nafta yang telah berusia 24 tahun atas desakan dari Trump.

Presiden AS itu mengatakan lewat akaun twitternya bahwa negaranya akan melakukan kesepakatan dagang besar dengan sejumlah negara tetangganya. Sejumlah perusahaan yang beroperasi di sepanjang Amerika Utara khawatir beberapa permintaan Presiden AS itu akan merugikan perekonomian negaranya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top