Turki Masih Bergejolak, Lira Fluktuatif

Nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS dilaporkan melemah sebelum mampu rebound pada awal perdagangan di Asia hari ini, Senin (27/8/2018), setelah bergerak relatif tenang ketika aktivitas pasar finansial lokal ditiadakan karena libur pekan lalu.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  06:24 WIB
Turki Masih Bergejolak, Lira Fluktuatif
Uang lira Turki. - Reuters/Murad Sezer

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS dilaporkan melemah sebelum mampu rebound pada awal perdagangan di Asia hari ini, Senin (27/8/2018), setelah bergerak relatif tenang ketika aktivitas pasar finansial lokal ditiadakan karena libur pekan lalu.

Dilansir dari Bloomberg, lira melemah hingga menyentuh level 6,0375 per dolar AS pada awal perdagangan Asia seiring dengan berlanjutnya kekhawatiran mengenai ekonomi Turki di tengah perseteruan dengan Amerika Serikat (AS) dan defisit transaksi berjalan yang semakin dalam.

Namun, mata uang tersebut kemudian mampu membalikkan pelemahannya dan diperdagangkan 0,4% lebih tinggi terhadap greenback pada pukul 7.43 pagi waktu Sydney. Sepanjang bulan Agustus, lira telah merosot sekitar 18%.

“Menurut kami, Turki belum lepas dari gejolaknya,” ujar Jose Wynne, seorang manajer portofolio di Man GLG. dalam risetnya pekan lalu. “Rebound pada aset-aset negara tersebut dari titik nadirnya pada 13 Agustus sebagian besar didorong tekanan teknis dalam lira Turki alih-alih perkembangan fundamental.”

Pelemahan lira menjadi cermin kekhawatiran investor atas perekonomian Turki dan sanksi yang dijatuhkan pemerintah AS menyusul penahanan seorang pendeta AS.

Meski telah menaikkan suku bunga sebesar 5 poin persentase sejak April untuk menstabilkan pasar, bank sentral Turki kemungkinan perlu mengambil langkah lebih lanjut untuk membendung kemerosotan yang terjadi, menurut Societe Generale SA.

Namun, pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menampik tekanan untuk menaikkan biaya pinjaman demi mendukung pertumbuhan ekonomi. Alih-alih, gejolak tersebut dinyatakan sebagai bagian dari "serangan ekonomi eksplisit" oleh pemerintah AS.

Perdamaian untuk Suriah dan Irak

Sementara itu, Presiden Erdogan pada Minggu (26/8) waktu setempat menyatakan akan membawa perdamaian dan keamanan untuk Irak dan wilayah-wilayah di Suriah serta menegaskan akan mengenyahkan organisasi-organisasi teroris di wilayah-wilayah tersebut.

Turki, yang mendukung sejumlah kelompok pemberontak di Suriah, telah bekerja sama dengan Rusia, yang mendukung Presiden Suriah Bashar al Assad, dan Iran untuk tercapainya resolusi politik terhadap krisis tersebut.

"Bukan tanpa sebab bahwa tempat-tempat di Suriah di mana keamanan dan perdamaian telah dibangun berada di bawah kendali Turki. Kita juga akan membangun perdamaian yang sama di bagian lain Suriah. Kita akan membawa perdamaian yang sama untuk Irak, yang masih didiami organisasi-organisasi teroris aktif,” seru Erdogan, dikutip Reuters.

Erdogan juga menghubungkan konflik-konflik regional dan krisis mata uang yang sedang terjadi di Turki terhadap upaya-upaya yang dilancarkan sebelumnya untuk menyerbu Anatolia, suatu wilayah di Turki sekaligus tempat bagi banyak kelompok etnis.

“Mereka yang mencari alasan sementara di balik masalah yang kita hadapi baru-baru ini salah dan sangat keliru. Serangan yang kita hadapi sekarang ... berakar dalam sejarah,” lanjut Erdogan, berpidato di tenggara Provinsi Mus untuk memperingati Pertempuran Manzikert.

"Jangan lupa, Anatolia adalah dinding dan jika tembok ini runtuh, tidak akan ada lagi Timur Tengah, Afrika, Asia Tengah, Balkan, atau Kaukasus.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
turki

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top