Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Bisa Meningkat Hari Ini

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan yield Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan menurun dan harganya meningkat, Senin (27/8/2018), didorong  oleh sentimen positif dari penyataan dovish Gubernur The Fed Jerome Powell.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  10:08 WIB
Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Bisa Meningkat Hari Ini
Ilustrasi Surat Utang Negara (SUN)

Bisnis.com,  JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan yield Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan menurun dan harganya meningkat, Senin (27/8/2018), didorong  oleh sentimen positif dari penyataan dovish Gubernur The Fed Jerome Powell.
 
"Namun, masih tingginya ketidakpastian akibat perang dagang dan adanya lelang SUN esok hari diperkirakan membatasi penurunan yield SUN (kenaikan harga SUN)," kata Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas Dhian Karyantono dalam riset harian, Senin (27/8).

Pada Selasa (28/8), pemerintah akan melelang Surat Utang Negara (SUN) seri SPN03181129, SPN12190829, FR0063, FR0064, FR0065, dan FR0075. Tingkat kupon untuk empat seri terakhir masing-masing 5,625%, 6,125%, 6,625%, dan 7,5%.

Target indikatifnya Rp10 triliun dan target maksimalnya Rp20 triliun. 

Berikut proyeksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:
 
FR0063 (15 Mei 2023):  91,60 (7,78%) -  92,25  (7,61%)
FR0064 (15 Mei 2028):  88,00 (7,92%) -  88,60  (7,82%)
FR0065 (15 Mei 2033):  88,25 (8,00%) -  88,50  (7,96%)
FR0075 (15 Mei 2038):  91,25 (8,42%) -  92,05  (8,33%)
 
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan menguat terbatas di rentang Rp14.565-Rp14.600.
 
Pada perdagangan akhir pekan lalu, tepatnya 24-25 Agustus 2018, yield US Treasury dan indeks dolar AS turun merespons pidato Powell. Dalam acara Simposium Ekonomi Jackson Hole, dia cenderung memberikan pernyataan dovish kepada pasar.
 
Hal tersebut didasarkan pada setidaknya tiga poin pernyataan Powell. Pertama, inflasi AS saat ini terus bergerak naik mendekati target objektif The Fed sebesar 2%, tetapi belum ada indikasi atau sinyal bahwa inflasi AS melampaui target tersebut.
 
Kedua, normalisasi bertahap suku bunga acuan akan berlanjut “jika” pertumbuhan upah dan penyerapan tenaga kerja terus meningkat.
 
Padahal, indikator upah tenaga kerja AS, tercermin dari pertumbuhan rata-rata pendapatan per jam dan pertumbuhan pendapatan personal cenderung mengalami pertumbuhan yang stagnan sehingga memicu ekspektasi perlambatan normalisasi suku bunga acuan The Fed.
 
Ketiga, meski Powell tidak mengelaborasi lebih dalam terkait perkembangan ekonomi global, tetapi dia menyampaikan bahwa The Fed akan tetap memperhatikan perkembangan ekonomi global yang dapat memicu respons berbeda dari kebijakan moneternya.
 
Hal ini dikaitkan dengan kekhawatiran pasar terhadap dampak perang dagang kepada ekonomi AS yang berpotensi memperlambat proses normalisasi suku bunga The Fed. 
 
Merespons pernyataan Powell tersebut, yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun ditutup turun tipis ke level 2,81% dari sebelumnya 2,83%. Sementara itu, indeks dolar AS juga mengalami hal yang sama dengan penutupan di level 95,15 poin dari sebelumnya 95,5-95,6 poin.
 
Selain itu, pernyataan Powell sekaligus mengeliminasi dorongan kenaikan indeks dolar AS seiring dengan meningkatnya ketidakpastian terkait isu perang dagang setelah pertemuan antara delegasi AS dengan Tiongkok guna membahas isu perang dagang tidak mencapai titik terang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup