Obligasi Blockchain Bank Dunia Banjir Peminat

Penerbitan obligasi publik pertama di dunia yang dikelola menggunakan teknologi blockchain mendapatkan dukungan setidaknya dari tujuh investor.
Dwi Nicken Tari | 24 Agustus 2018 16:25 WIB
Karyawati beraktivitas di kantor Bank Dunia, di Jakarta, Senin (9/10). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Penerbitan obligasi publik pertama di dunia yang dikelola menggunakan teknologi blockchain mendapatkan dukungan setidaknya dari tujuh investor.

Hal itu disampaikan oleh Commonwealth Bank of Australia (CBA) selaku pengelola utama obligasi blockchain yang diterbitkan oleh Bank Dunia tersebut.

Adapun nilai obligasi yang akan diterbitkan pada 28 Agustus 2018 tersebut adalah senilai 110 dolar Australia (US$80,48) bertenor dua tahun dengan yield sebesar 2,251%.

Executive General Manager CBA James Wall menyatakan bahwa ketertarikan terhadap kesepakatan yang didesain untuk menguji cara kerja teknologi yang dapat digunakan untuk praktik penjualan obligasi tersebut ternyata melampaui ekspektasi CBA dan Bank Dunia. 

Senada, Bendahara Bank Dunia Arunma Oteh menyampaikan bahwa peminat obligasi blockchain tersebut sangat banyak. "Saya dengan bangga menyampaikan bahwa transaksi obligasi bond-i (Blockchain Operated New Debt Instrument) yang menggunakan teknologi blockchain mendapatka  sambutan yang baik dari investor," kata Oteh, seperti dikutip Reuters, Jumat (24/8/2018).

Adapun investor yang tertarik tersebut adalah perusahaan pendanaan asal AS Northern Trust, tiga pemerintahan daerah di Australia, perusahaan pendanaan pensiun daerah di Australia First State Super, dan CBA sendiri.

Oteh menambahkan bahwa Bank Dunia sangat terkesan dengan peminat yang berasal dari institusi formal tersebut, "investor berkualitas tinggi tersebut mengerti tentang manfaat yang diberikan oleh teknologi untuk inovasi di pasar modal."

Adapun Bank Dunia yang memegang rating utang tingkat AAA telah secara berkala menggunakan kekuatan pinjamannya untuk membantu mengembangkan pasar obligasi global.

Bank Dunia pun telah menjadi pionir di dalam pembentukan aturan baru di dalam praktik penjualan dan perdagangan aset sekuritas di dunia. Setiap tahun, Bank Dunia menerbitkan obligasi dengan kisaran antara US$50 miliar hingga US$60 miliar untuk menopang aktivitas ekonomi di negara berkembang.

Sementara itu, alasan Bank Dunia memilih menerbitkan obligasi blockchain-nya di Australia adalah karena  Negeri Kanguru merupakan tempat populer untuk melakukan percobaan pengembangan pasar modal.

Di sana terdapat infrastruktur keuangan yang sangat baik dan investor internasional pun sudah terbiasa dengan dolar Australia (sebagai salah satu mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Sumber : Reuters

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top