Pasar Obligasi: Harga Berpotensi Menguat, Simak Perkiraan Yield SUN Hari Ini

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Kamis (23/8/2018) secara umum akan meningkat.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  09:12 WIB
Pasar Obligasi: Harga Berpotensi Menguat, Simak Perkiraan Yield SUN Hari Ini
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari ini, Kamis (23/8/2018) secara umum akan meningkat.

"Hari ini, yield SUN secara umum diperkirakan menurun (harga SUN meningkat) dibandingkan dengan hari sebelumnya yang utamanya didorong oleh sentimen dovish dari rilis FOMC Minutes," kata Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas dalam riset harian, Kamis (23/8/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini [harga (yield)]:

FR0063 (15 Mei 2023): 92,20 (7,62%) - 92,45 (7,55%)
FR0064 (15 Mei 2028): 89,00 (7,75%) - 89,40 (7,69%)
FR0065 (15 Mei 2033): 86,75 (8,19%) - 87,30 (8,12%)
FR0075 (15 Mei 2038): 92,15 (8,31%) - 92,75 (8,25%)

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan bergerak menguat terbatas pada rentang Rp14.530 – Rp14.590.

Dhian mengatakan, pada perdagangan terakhir, 20-21 Agustus 2018, harga SUN secara umum meningkat dan minat lelang sukuk pemerintah lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Mayoritas harga SUN pada perdagangan terakhir di pasar sekunder pada Selasa (21/8/2018) meningkat di mana peningkatan harga umumnya terjadi di SUN tenor menengah dan panjang dengan rata-rata masing-masing sebesar 22,24 bps dan 12 bps sedangkan SUN tenor pendek secara umum mengalami penurunan harga dengan rata-rata sebesar 6,29 bps.

Tingkat kenaikan harga SUN utamanya didorong oleh sentimen positif global dari pernyataan Trump mengenai ketidaksetujuannya terkait kebijakan normalisasi suku bunga The Fed yang pada akhirnya mendorong turunnya yield US Treasury dan apresiasi rupiah terhadap dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg spot, nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis sebesar 0,07% ke level Rp14.580 pada perdagangan Selasa dibandingkan dengan penutupan pasar di hari sebelumnya.

Meskipun demikian, antisipasi investor jelang rilis FOMC Minutes, Simposium Ekonomi Jackson Hole, dan jeda libur pasar memperingati Idul Adha membuat kenaikan harga SUN tidak setinggi hari sebelumnya.

Sementara itu, pemerintah menyerap Rp6,27 triliun dalam lelang sukuk pemerintah pada Selasa (21/8/2018) atau di atas target pemerintah sebesar Rp4 triliun. Minat investor dalam lelang sukuk kemarin juga cenderung lebih tinggi yaitu mencapai Rp14,80 triliun dibandingkan dengan lelang sukuk pemerintah sebelumnya sebesar Rp10,9 triliun.

"Tingginya minat lelang tampaknya disebabkan oleh sentimen positif dari global dalam dua hari terakhir dan rencana pemerintah untuk mengurangi target penerbitan SBN di semester dua tahun ini," katanya.

Sementara itu, risalah rapat FOMC (FOMC Minutes) pertemuan FOMC akhir Juli dan awal Agustus 2018 kemarin menunjukkan poin-poin yang cenderung dovish di mana di dalam risalah disampaikan bahwa meski PDB AS pada semester II-2018 diproyeksi tumbuh di atas trendnya, tetapi pertumbuhan ekonomi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di semester pertama.

Selain itu, proyeksi inflasi PCE AS pada tahun 2018 juga direvisi sedikit menurun yang didorong oleh proyeksi turunnya inflasi barang-barang energi di semester II-2018.

Meski demikian, The Fed masih meyakini inflasi AS dalam jangka menengah akan tetap berada pada level mendekati target The Fed sebesar 2%. Para pejabat The Fed juga menyampaikan kekhawatirannya terkait dampak dari kebijakan restriksi perdagangan internasional AS khususnya dengan Tiongkok berpotensi mendorong perlambatan ekonomi AS.

Seiring dengan jadwal rilis data-data ekonomi AS kuartal III yang biasanya di rilis di kuartal selanjutnya, pasar masih meyakini bahwa The Fed masih akan menaikkan kembali suku bunga acuannya pada pertemuan September 2018 nanti ke level 2% - 2,25% di mana keyakinan pasar tercermin dari kenaikan probabilitas FedWatch Tools ke level 96% (sebelumnya 93%).

Namun demikian, untuk kuartal akhir 2018 seiring dengan proyeksi melambatnya ekonomi AS dan revisi menurun inflasi AS, membuat potensi kenaikan FFR 4 kali di tahun ini sedikit menurun meski probabilitasnya saat ini masih di kisaran 60%.

Pasca rilis FOMC minutes tersebut, indeks dolar AS sempat menyentuh di level terendah sejak awal Agustus 2018 ke level 95,10 poin sementara yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun cenderung stabil di level 2,82%.

Sentimen dovish FOMC Minutes juga sekaligus mengurangi dorongan kenaikan indeks dolar AS dan yield US Treasury setelah sebelumnya didorong beberapa sentimen yaitu ketidaksetujuan Trump terkait kebijakan normalisasi suku bunga acuan The Fed dan cenderung redanya ketidakpastian global sebagai akibat dari isu perang dagang dan krisis mata uang Turki.

Berikut ini perubahan imbal hasil dan harga seri-seri acuan SUN dan obligasi global serta CDS Indonesia kemarin :

PRICE OF INDONESIA GOVERNMENT BONDS
FR0063: +18,80 bps to 92,09 (7,65%)
FR0064: +11,70 bps to 88,69 (7,80%)
FR0065: +21,80 bps to 86,96 (8,16%)
FR0075: +11,40 bps to 92,06 (8,32%)

YIELD OF GLOBAL BONDS
UST 2yr: -0,005 point to 2,59%
UST 5yr: -0,007 point to 2,71%
UST 10yr: -0,011 point to 2,82%
UST 30yr: -0,009 point to 2,99%
German Bund 10yr: +0,014 point to 0,34%
UK Gilt 10yr: +0,004 point to 1,27%

CDS OF INDONESIA BONDS
CDS 2yr: +2,75% to 45,23
CDS 5yr: -1,61% to 120,03
CDS 10yr: -1,64% to 201,92

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top