BHP Billiton Sebut AS Paling Merugi karena Perang Dagang 

Amerika Serikat berisiko menjadi pihak paling merugi setelah membatasi hubungan dagang dengan sejumlah negara saingannya seperti China dan Eropa yang kini menyambung hubungan dagang dengan satu sama lain.
Mutiara Nabila | 22 Agustus 2018 21:04 WIB
Ilustrasi kawat tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat berisiko menjadi pihak paling merugi setelah membatasi hubungan dagang dengan sejumlah negara saingannya seperti China dan Eropa yang kini menyambung hubungan dagang dengan satu sama lain.

“Saat ini sudah banyak negara yang ingin memperkuat hubungan dagang dengan negara lainnya, AS justru ingin membatasi hubungan tersebut. China menjadi salah satu yang mendapat keuntungan jarena semakin banyak pihak yang ingin bekerja sama,” ungkap Andrew Mackenzie, Vhief Executive Officer BHP Billiton Ltd., dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/8/2018).

Dengan pangsa pasar dan hasil produksi bijih besi, tembaga hingga minyak bumi yang stabil, BHP berada di posisi yang baik untuk meninjau kerugian yang diterima AS dalam kebijakan perlindungan dari Presiden AS Donald Trump serta respons dari China dan Uni Eropa.

Pada Maret, Mackenzie memberikan pernyataan soal tarif terhadap komoditas logam, menyebutnya sebagai “apa yang buruk bagi Amerika, maka buruk bagi dunia”.

Dalam outlook yang terakhir dirilis pertambangan tersebut menyatakan bahwa kebijakan proteksionis AS akan menghambat pertumbuhan global, mendorong harga, dan akirnya mendesak konsumen untuk mundur karena takut harus membayar biaya yang terlalu mahal.

Peningkatan proteksi akan memberi efek peredam pada pertumbuhan ekonomi global, meskipun China masih bisa memitigasi sejumlah dampak dengan memberikan stimulasi untuk permintaan domestik dan mendorong pengekspornya.

Pada bulan ini, Soren Skou, yang mengelola perusahaan pengiriman terbesar di dunia, A.P. Moller – Maersk A/S, memperingatkan bahwa perekonomian AS akan lebih terpukul, berkali-kali lipat dibandingkan dengan negara lain karena perang dagang.

Laporan BHP menyatakan bahwa pertumbuhan global akan melambat dari kisaran 3,5% - 4% tahun ini menjadi antara 3,25% - 3,75%.

“Kami telah merevisi pertumbuhan global jangka pendek. Perlambatan mencerminkan dampak dari sikap proteksionis dagang, yang diperkirakan akan diimbangi oleh perluasan kebijakan domestik AS,” kata Huw McKay, Wakil Kepala Analis Pasar BHP Billiton Ltd.

Tembaga menjadi salah satu komoditas yang sangat dirugikan atas adanya perang dagang dan pertumbuhan risiko, dengan harganya masuk ke pasarbearish. BHP melaporkan bahwa logam dasar itu, yang digunakan untuk membuat pipa saluran dan kabel, terus tergerus karena minat para investor akan aset tersebut berkurang dengan kenaikan tensi perang dagang.

Perusahaan tambang raksasa tersebut juga menyoroti komoditas bajau, mengatakan bahwa pengguna dari AS justru harus membayar lebih mahal.

“Respons dan dampak dari kenaikan tarif baja di AS menjadi sumber ketidakpastian. Yang pasti, pengguna di AS harus membayarlebih mahal untuk pembelian bajanya dibandingkan dengan di wilayah atau negara lain,” kata McKay.

Saat ini, BHP mengatakan bahwa konsumen diprediksi akan memberikan pandangan reli terhadap tarif.

Tag : komoditas tembaga, perang dagang AS vs China
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top