Jelang Pertemuan Dagang AS-China, Harga Tembaga Stabil

Harga tembaga di London Metal Exchange stabil menjelang pertemuan pembahasan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, meskipun Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penyelesaian perang dagang butuh waktu yang panjang.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 22 Agustus 2018  |  21:02 WIB
Jelang Pertemuan Dagang AS-China, Harga Tembaga Stabil
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga di London Metal Exchange stabil menjelang pertemuan pembahasan perdagangan antara Amerika Serikat dan China, meskipun Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penyelesaian perang dagang butuh waktu yang panjang.

Trump mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki kepastian kurun waktu tertentu untuk mengkahiri perang dagang dengan China, yang telah memberikan ancaman untuk menjatuhkan tarif ke hampir seluruh barang konsumsi yang diperdagangkan oleh kedua negara tersebut.

Pembicaraan antara kedua kekuatan ekonomi dunia itu dilaksanakan seiring dengan penjatuhan tarif terbaru dari AS pada barang konsumsi China senilai US$16 miliar yang akan mulai berlaku pada Kamis (23/8) tengah malam waktu AS, bersamaan dengan tarif serupa dari Beijing kepada barang AS.

“Pajak yang terakhir diumumkan itu akan mengingatkan para investor akan ancaman kesehatan perekonomian dan menyorot risiko politik dari kedua negara AS dan China,” ungkap Michael McCarthy, Kepala Ahli strategi Pasar CMC Markets and Stockbroking, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (22/8/2018).

Pada perdagangan Selasa (22/8), harga tembaga di London Metal Exchange (LME) tercatat kembali ke atas US$6.000 per ton ke posisi US$6.045 per ton, naik 53,50 poin atau 0,89% dari penutupan sesi perdagangan hari sebelumnya. Adapun, harga tembaga di Shanghai Futures Exchange naik 0,3% ke posisi 48.610 yuan per ton.

Pertemuan antara kedua negara, yang diperkirakan akan dilaksanakan pada Rabu dan Kamis (22 – 23/8) di Washington, menjadi pertemuan resmi antara AS dan China pertama kali sejak Juni lalu, ketika Menteri Perdagangan Luar Negeri AS Wilbur Ross menemui Penasihat Ekonomi Pemerintah China Liu He di Beijing dan kembali tanpa keputusan apapun.

Selain itu, bank sentral China mengatakan tidak akan merilis stimulus yang kuat untuk menopang pelemahan ekonomi China, tetapi akan menjaga likuiditas dengn level yang cukup masuk akal untuk membantu sejumlah eprusahaan China yang menghadapi masalah mengelola keuangannya.

Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sejumlah mata uang pada sesi Selasa (21/8) tercatat turun 0,12 poin atau 0,13% di posisi 95,13 dan naik 3,39% secara year-to-date (ytd).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas tembaga

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup