Minyak Tergelincir Tipis Meski Produksi AS Melambat

Harga minyak bertahan di dekat posisi US$66 per barel dengan sejumlah investor masih menijau tanda-tanda perlambatan pertumbuhan produksi minyak mentah AS karena krisis saluran pipa atas adanya kekhawatiran akan perang dagang antara sejumlah negara kekuatan ekonomi dunia.
Mutiara Nabila | 20 Agustus 2018 13:21 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bertahan di dekat posisi US$66 per barel dengan sejumlah investor masih menijau tanda-tanda perlambatan pertumbuhan produksi minyak mentah AS karena krisis saluran pipa atas adanya kekhawatiran akan perang dagang antara sejumlah negara kekuatan ekonomi dunia.

Pada perdagangan Senin (20/8) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat merosot 0,23 poin atau 0,35% di posisi US$65,68 per barel dan naik 8,71% secara year-to-date (ytd).

Adapun, harga minyak Brent tercatat berada pada posisi US$71,59 per barel, turun 0,24 poin atau 0,33% dari penutupan perdagangan sebelumnya. Selama tahun berjalan, harga minyak Brent tercatat naik 7,06%.

Rig minyak di AS masih di level tertingginya lebih dari tiga tahun. Keseluruhan jumlahnya telah bertambah 10 unit sejak akhir Mei lalu.

Saluran pipa yang macet dan kenaikan biaya operasional membuat sejumlah keputusan investasi tertunda di Permian Basin, sengan sejumlah pengeksplor minyak dipaksa untuk menjual hasil produksinya dengan diskon harga yang cukup besar dari harga patokan global.

Sementara itu, para trader juga masih mempertimbangkan outlook minyak mentah dilihat dari sisi perang dagang antara Amerika dan China yang diperkirakan akan kembali melakukan pembicaraan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Harga minyak telah mengalami kemerosotan hingga 11% dari puncaknya pada akhir Juni lalu karena perang dagan antara AS dan China, serta krisis di Turki yang menambah ancaman pada perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan menyusutkan permintaan energi.

Kenaikan pasokan juga menjadi faktor yang memberatkan harga, dengan hasil produksi AS mendekati rekor tertinggi setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya menyatakan akan menambah produksi pada awal Juli.

“Pertumbuhan produksi minyak AS diperkirakan akan melambat hingga pipa baru dibangun pada 2019,” ujar Mikiko Tate, analis senior Sumitomo Corporation Global Research Co., dikutip dari Bloomberg, Senin (20/8).

Tate menyatakan bahwa tensi perdagangan antara AS dan China, serta krisis ekonomi Turki masih membawa kekhawatiran. Meskipun dampaknya belum terlihat, para investor masih sangat berhati-hati.

Selain harga minyak Brent dan WTI, harga minyak berjangka untuk pengiriman Desember di bursa Shanghai International Energy Exchange juga mengalami penurunan hingga 1,6% menjadi 488,8 yuan per barel. Kontrak terebut melanjutkan penurunan 0,2% pada penutupan perdagangan Jumat (17/8).

Kemacetan pipa dan biaya operasional yang melonjak menimbulkan kerugian bagi para pengeksplor, karena tarif yang dikenakan oleh Presiden AS Donald Trump pada komoditas baja membuat pembangunan saluran pipa menjadi semakin mahal.

Cabot Oil & Gas Corp. terpaksa menghentikan pengeluaran biaya untuk eksplorasi di Permian. Selain itu, ConocoPhillips mengatakan tengah mempertimbangkan untuk memindahkan sejumlah rignya dari Permian ke wilayah Eagle Ford di Texas Selatan yang tidak terlalu padat.

Analis Wells Fargo Michael Blum menuturkan bahwa kelangkaan kapasitas cadangan minyak di AS diperkirakan tidak akan berkurang hingga awal 2020. Blum sebelumnya memproyeksikan kemacetan pipa di Permian baru bisa teratasi pada akhir kuartal III/2019.

Hal itu menambah spekulasi lonjakan jumlah persediaan minyak serpih AS, yang selama ini menjadi salah satu faktor penekan harga, sudah mulai mereda karena menjadi pertanda bahwa aktivitas pengeboran minyak di AS berkurang.

Berdasarkan data Baker Hughes, rig minyak di AS masih belum berubah jumlahnya, sebanyak 869 unit. Sementara itu, jumlah rig I Permian Basin naik 1 unit menjadi 486, tertinggi sejak Januari 2015. Pertumbuhan rig tersebut terus melambat dalam beberapa bulan terakhir.

“Minyak mentah hanya memposting minggu terburuknya sejak Juli karena dolar AS yang melonjak, pertumbuhan pasar negara berkembang yang melambat dan kekhawatiran pasokan telah membebani komoditas. Meskipun terjadi penurunan harga, salah satu pedagang komoditas melihat adanya potensi reli pada harga minyak,” kata Ahmad Yudiawan, analis PT Monex Investindo Futures, dikutip dari laporan hariannya, Senin (20/8).

Ahmad memproyeksikan harga minyak WTI akan bergerak turun untuk menguji level support di US$64,30 per barel. Penembusan level tersebut akan berpotensi membawa harga minyak menguji level support selanjutnya pada level US$63,95 per barel dan US$63,50 per barel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top