PASAR OBLIGASI: Pekan Ini, Harga SUN Berpotensi Menguat

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada pekan ini, 20-24 Agustus 2018, yield surat utang negara atau SUN secara umum berpotensi menurun (harga SUN meningkat) dibandingkan dengan minggu sebelumnya.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 20 Agustus 2018  |  10:45 WIB
PASAR OBLIGASI: Pekan Ini, Harga SUN Berpotensi Menguat
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa pada pekan ini, 20-24 Agustus 2018, yield surat utang negara atau SUN secara umum berpotensi menurun (harga SUN meningkat) dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa sentimen positif bagi pasar obligasi Indonesia  diperkirakan akan didorong oleh turunnya tensi perang dagang terutama antara Tiongkok dengan AS jelang rencana pertemuan antara  delegasi kedua negara di Washington pada Rabu dan Kamis minggu ini waktu setempat.

Hal tersebut diperkirakan bisa menambah sentimen positif setelah kekhawatiran pasar terhadap krisis mata uang Turki cenderung mereda.

Beberapa sentimen positif tersebut diprediksi dapat mengimbangi kemungkinan adanya sentimen negatif dari rilis risalah rapat The Fed dan ECB serta pidato Jerome Powell di acara Simposium Ekonomi Jackson Hole 2018 yang dikhawatirkan akan memberikan sentimen hawkish ke pasar.

Dengan demikian, baruan sentimen tersebut diproyeksi akan mendorong yield US Treasury pada minggu ini bergerak pada rentang 2,85% - 2,91% sementara sentimen positif dari global akan menambah sentimen positif domestik dari kenaikan BI-7DRRR sehingga rupiah pada minggu ini diperkirakan bergerak cenderung menguat pada kisaran Rp14.520 - Rp14.600 per dolar AS.

"Dari dua estimasi utama tersebut maka pergerakan yield SUN pada minggu ini cenderung menurun dibandingkan minggu kemarin di mana yield benchmark 10 tahun SUN diperkirakan bergerak di rentang 7,72% - 7,90%," katanya dalam riset harian, Senin (20/8/2018).

Sementara itu, khusus untuk perdagangan hari ini, Senin (20/8/2018) yield SUN secara umum pada hari ini diproyeksi bergerak menurun (harga SUN meningkat) merespon sentimen positif dari global akhir minggu lalu.

Berikut perkiraan pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023): 91,75 (7,74%) - 92,10 (7,64%)

FR0064 (15 Mei 2028): 88,10 (7,90%) - 88,60 (7,82%)

FR0065 (15 Mei 2033): 85,90 (8,30%) - 86,50 (8,22%)

FR0075 (15 Mei 2038): 91,55 (8,38%) - 92,15 (8,31%)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan menguat pada rentang Rp14.520 – Rp14.580.

Adapun, harga SUN pada hari terakhir pekan lalucenderung bervariasi merespon sentimen positif jangka pendek dari kenaikan BI-7DRRR di tengah kembali meningkatnya kekhawatiran terkait krisis mata uang Turki.

Pada perdagangan terakhir di pasar sekunder, harga SUN secara umum bervariasi di mana SUN tenor pendek dan panjang cenderung mengalami penurunan harga dengan rata-rata penurunan sebesar 3,33 bps dan 43,37 bps sedangkan SUN tenor menengah mengalami peningkatan harga dengan rata-rata kenaikan sebesar 22,94 bps. 

Bervariasinya harga SUN didorong oleh kebijakan moneter Bank Indonesia yang di luar dugaan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke level 5,50% di tengah kekhawatiran terkait krisis mata uang Turki.

Sementara itu, jelang libur panjang minggu lalu, baik nominal maupun frekuensi transaksi obligasi pemerintah cenderung menurun di mana SUN seri benchmark masih mendominasi perdagangan di pasar sekunder.

Dari pasar global, ada sentimen positif pada akhir pekan lalu. Kekhawatiran pasar terkait krisis mata uang Turki mereda (pada perdagangan global, Jumat) pasca rencana Pemerintah Qatar untuk membantu ekonomi Turki dengan memberikan pinjaman senilai US$15 miliar untuk disalurkan ke pasar modal dan sektor perbankan Turki.

Selain itu, sentimen positif juga datang dari rencana pertemuan antara Tiongkok dengan AS pada minggu ini guna membahas kebijakan proteksi perdagangan internasional kedua negara.

Beberapa sentimen positif tersebut mendorong pelemahan nilai tukar dolar AS dibandingkan dengan peersnya, yang tercermin dari turunnya indeks dolar AS secara signifikan ke level 96,10 poin (sebelumnya di kisaran 96,60 - 96,70 poin).

Sementara itu, yield US Treasuy 10 tahun cenderung stagnan di level 2,86%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup