Penerbitan SBR004: Kabar Gembira Bagi Investor Ritel

Di tengah kondisi pasar yang sedang tidak menentu, investor ritel boleh tersenyum pekan ini. Sebab, pemerintah akan mulai menjual instrumen surat utang negara atau SUN berbasis tabungan bagi investor individu atau saving bond ritel (SBR).
Emanuel B. Caesario | 20 Agustus 2018 07:19 WIB
Obligasi

Bisnis.com,JAKARTA -- Di tengah kondisi pasar yang sedang tidak menentu, investor ritel boleh tersenyum pekan ini. Sebab, pemerintah akan mulai menjual instrumen surat utang negara atau SUN berbasis tabungan bagi investor individu atau saving bond ritel (SBR).

Di luar dugaan, pemerintah memutuskan kembali menerbitkan SBR tahun ini, yakni SBR004. Padahal, instrumen jenis ini sudah diterbitkan pada Mei lalu yang merupakan instrumen surat berharga negara (SBN) ritel pertama yang dijual secara daring atau e-SBN, yakni SBR003.

Hari ini, Senin (20/8), Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dijadwalkan akan membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Bersamaan dengan itu, dibuka juga masa penawaran SBR004 yang akan berlangsung hingga 13 September 2018 pukul 10.00 WIB.

Akhir pekan lalu, DJPPR telah mengumumkan profil dari instrumen ini. Berbeda dibandingkan dengan obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk ritel (sukri), instrumen ini tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Selain itu, instrumen ini juga tidak dapat dicairkan hingga jatuh temponya, yakni 2 tahun, kecuali pada masa pelunasan sebelum jatuh tempo, yakni pada 7 – 15 Oktober 2019.  Itu pun, nilainya maksimal 50% dari nilai transaksi pembelian per agen atau mitra distribusi.

Meskipun memiliki keterbatasan tersebut, instrumen ini memiliki daya tarik kupon yang tinggi, yakni 8,05% dan bersifat mengambang terhadap suku bunga BI 7 Days Repo Rate (7 DRR). Kupon ini diperoleh dari BI 7DRR yang pekan lalu naik menjadi 5,50%, ditambah spread 255 bps.

Kupon ini merupakan kupon minimal yang akan naik tiap 3 bulan bila ada kenaikan BI 7DRR. Namun, bila BI 7DRR turun ke bawah 5,50%, kupon ini tidak berubah. Kupon minimal seri ini lebih tinggi dibandingkan dengan SBR003 lalu yang sebesar 6,80%.

Investor dapat membeli SBR004 dari 11 mitra distribusi secara online. Enam di antaranya adalah bank, yakni Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Permata, Bank BRI, dan Bank BTN. Selain itu, bisa juga melalui perusahaan efek, yakni Trimegah Sekuritas.

Menariknya, investor juga bisa membeli melalui perusahaan efek khusus seperti Bareksa dan Tanamduit, maupun melalui perusahaan startup tekfin seperti Investree dan Modalku. Minimal pembelian Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar. Kupon dibayar pada tanggal 20 setiap bulan.

Dhian Karyantono, analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa bila dibandingkan yield SUN tenor 2 tahun yang saat ini pada kisaran 7,11%, SBR004 jelas lebih menarik. Sifat kuponnya yang mengambang akan menguntungkan, sebab tren suku bunga global dan domestik sedang meningkat.

 Tingkat bunganya juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga deposito rupiah di bank BUKU 3 dan BUKU 4 dengan tenor yang sama. Pajaknya pun hanya 15%, lebih rendah dibandingkan deposito 20%.

Ditambah sifatnya yang stabil, ini menjadi pilihan menarik bagi investor untuk amankan dana di tengah volatilitas pasar. Dirinya memproyeksikan penjualan instrumen ini bisa mencapai Rp2,5 triliun hingga Rp3,5 triliun atau lebih tinggi dibandingkan SBR003 yang sebesar Rp1,93 triliun.

Dibandingkan dengan ORI dan Sukri, penjualan instrumen ini memang masih lebih rendah sebab dibatasi oleh nominal minimum dan kelipatan pemesanan yang tidak sebesar keduanya, serta sifatnya yang tidak dapat dijualbelikan di pasar sekunder.

Menurutnya, tantangan bagi DJPPR adalah meningkatkan sosialisasi instrumen ini sebab masih kalah popular dibandingkan deposito. Untuk itu, seharusnya masa penawarannya pun bisa lebih panjang, setidaknya hingga 26 September – 2 Oktober 2018.

“Jika pemerintah ingin memperdalam investor ritel domestik, pemerintah perlu memperhatikan juga waktu ketersediaan cash flow dana masyarakat ritel,” katanya, Minggu (19/8).

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa tampaknya pemerintah melihat sistem online yang dirintis tahun ini memberi peluang bagi penerbitan SBR lebih rutin. Padahal, sebelumnya SBR hanya diterbikan setahun sekali, pun tahun ini hanya direncanakan sekali.

Instrumen ini efektif untuk pendalaman pasar ritel, sebab dapat dipastikan instrumennya tidak akan berpindah tangan pada investor institusi di pasar sekunder, seperti yang terjadi pada ORI dan Sukri. Investor ritel di ORI dan Sukri kerap kali adalah spekulan yang mengincar keuntungan di pasar sekunder, padahal sasaran instrumen fixed income sejatinya adalah kupon yang stabil.

“Instrumen ini akan lebih menarik dibandingkan ORI pada kuartal keempat nanti, karena dengan adanya ekspektasi kenaikan suku bunga, ORI akan turun harganya di pasar sekunder karena kuponnya fix, sedangkan SBR mengambang,” katanya.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset  dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tujuan terpenting instrumen ini untuk memberikan pemanis kepada investor ritel agar mereka teredukasi dan tersosialisasi tentang produk obligasi.

“Hal ini akan membantu pasar obligasi kita. Apabila dominasi investor lokal bisa besar, tentu pada akhirnya porsi asing akan bisa dikurangi. Saya cukup senang, karena tidak seperti ORI dan Sukri sebelumnya yang memberikan kupon yang dapat dibilang mengecewakan,” katanya.

Scheneider Siahaan, Direktur Strategi dan Portofolio Utang DJPPR Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah memperdalam basis investor domestik. Pemerintah menyadari kelemahan pasar SBN selama ini yang terlalu didominasi asing sehingga menjadi sangat rentan terhadap gejolak eksternal, seperti yang saat ini terjadi.

“Situasi saat ini investor asing tidak bisa diharapkan, mereka tidak bakal masuk. Justru itu kita fokus pada investor domestik,” katanya.

Pemerintah menyadari bahwa butuh waktu yang panjang untuk menciptakan basis investor domestik yang kuat, sehingga harus dimulai secepatnya dan seoptimal mungkin.

Untuk itu, pemerintah mencoba mengikuti perkembangan zaman dengan memudahkan pembelian obligasi secara online, meskipun kini baru terbatas pada SBR.

Dirinya menjamin, pemerintah akan terus mengembangkan trobosan baru di masa mendatang untuk meningkatkan pasar investor ritel domestik. Tampaknya, masih akan banyak kabar baik bagi investor ritel di masa mendatang. Mari kita tunggu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top