Volatilitas Tinggi, Emisi Obligasi Diprediksi Tetap Marak

Penerbitan surat utang pada paruh kedua tahun ini diprediksi tetap ramai, kendati pasar masih belum kondusif.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 19 Agustus 2018  |  22:56 WIB
Volatilitas Tinggi, Emisi Obligasi Diprediksi Tetap Marak
Obligasi

Bisnis.com, JAKARTA — Penerbitan surat utang pada paruh kedua tahun ini diprediksi tetap ramai, kendati pasar masih belum kondusif.

Adanya kepastian terkait dengan tingkat suku bunga menjadi penguat keyakinan investor untuk masuk ke pasar surat utang. Selain itu, sejumlah sekuritas juga telah mendapatkan mandat untuk menerbitkan surat utang korporasi pada semester II/2018.

BCA Sekuritas misalnya, yang pada awal kuartal III/2018 telah mendapatkan tiga mandat penerbitan obligasi dengan nilai yang cukup besar. Ketiga mandat tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. senilai Rp3 triliun, PT Bank CIMB Niaga Tbk. senilai Rp1 triliun, dan PT Jakarta Lingkar Baratsatu senilai Rp1,3 triliun.

"Itu yang sudah bookbuilding. Masih ada lainnya di dalam pipeline kami, tapi yang bisa saya sebutkan sementara ini tiga itu. Yang lain masih menunggu izin efektif dari otoritas," kata Direktur BCA Sekuritas Imelda Arismunandar kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia meyakini, pada paruh kedua tahun ini penerbitan obligasi akan terus meningkat. Menurutnya, selama kupon yang diberikan cukup menarik, investor tidak akan ragu untuk masuk ke pasar surat utang.

"Kalau dibandingkan semester I/2018 memang masih kalah. Tapi ini kan baru awal kuartal III/2018, dan masih ada beberapa yang di pipeline. Keuntungan lain investor sudah yakin setelah pada semester I/2018 mereka wait and see," jelasnya.

PT Victoria Sekuritas Indonesia sejauh ini telah menerima mandat untuk menerbitkan surat utang wajib konversi alias mandatory convertible bond (MCB). Adapun, nilai penerbitan ditargetkan mencapai Rp300 miliar hingga Rp400 miliar.

"Itu dari perusahaan bank yang menjadi klien kami. Kemarin kami sudah menerbitkan obligasi Bank Victoria dan ini nanti MCB dari bank juga," kata Direktur PT Victoria Sekuritas Indonesia Wisnu Widodo.

Sementara itu, Head of Debt Research Division PT Danareksa Sekuritas Amir A. Dalimunthe menilai, penerbitan surat utang korporasi pada semester II/2018 masih akan tinggi mengingat jumlah obligasi korporasi yang jatuh tempo pada Agustus—Desember mencapai Rp26,3 triliun.

Selain obligasi jatuh tempo, faktor pendorong lainnya adalah strategi pricing atau penentuan imbal hasil. Para pelaku pasar, katanya, masih mengantisipasi volatilitas dan potensi kenaikan imbal hasil di masa mendatang.

"Meningkatnya yield SUN [Surat Utang Negara] sejak pertengahan kuartal I/2018 menyebabkan penerbitan di pasar perdana obligasi tidak seramai tahun lalu," kata dia.

Sepanjang tahun ini, yield SUN tenor 10 tahun naik signifikan dengan tingkat volatilitas cukup tinggi. Per 17 Agustus 2018, yield SUN 10 tahun berada pada level 7,99%.  Adapun jumlah obligasi korporasi yang jatuh tempo pada periode Agustus—Desember 2018 didominasi sektor keuangan yakni mencapai Rp20,7 triliun. Selain itu, sisa plafon penerbitan obligasi dengan skema Penawaran Umum Berkelanjutan atau PUB di sektor ini juga masih besar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Juli 2018, total emisi obligasi dan sukuk korporasi baru yang tercatat mencapai 60 emisi dari 41 emiten dengan nilai menembus Rp71,44 triliun.

Dengan demikian, total obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 624 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp402 triliun, diterbitkan oleh 112 emiten.

Di sisi lain, jumlah Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI mencapai 91 seri dengan nilai nominal Rp2.224,71 triliun dan US$200 juta. Efek Beragun Aset (EBA) tercatat sebanyak 14 emisi senilai Rp9,91 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top