Harga Gula Ambyar, Proyeksinya Turun ke US$8 Sen Per Pon 

Harga komoditas pertanian terus tergerus, sejumlah trader memprediksikan penurunan harga terparah akan dialami oleh komoditas gula.
Mutiara Nabila | 19 Agustus 2018 20:46 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas pertanian terus tergerus, sejumlah trader memprediksikan penurunan harga terparah akan dialami oleh komoditas gula.

Kekacauan yang dialami mata uang negara berkembang (emerging market/EM) akan membuat negara produsen komoditas pertanian seperti Brasil terus memacu penurunan pasokan hasil panen seiring dengan persediaan kopi dan gula yang memuncak dan memberatkan harganya di pasar.

Sementara itu, krisis keuangan di Turki akan membatasi permintaan pembelian kapas, bersamaan dengan kemunculan prospek produksi kapas AS yang meningkat.

Berdasarkan indeks Bloomberg Softs Subindex sejak 1991, mencatatkan pelemahan harga ketiga komoditas tersebut anjlok ke rekor terendah ada Jumat (17/8). Harga gula mentah di bursa New York tercatat berada pada harga termurahnya dalam sedekade terakhir, sedangkan kopi dan kapas mulai mencatatkan penurunan mingguan.

“Gaung dari pelemahan mata uang lira telah memicu badai pada mata uang EM,” kata Julio Sera, Konsultan Manajemen Risiko INTL FStone, dilansir dari Bloomberg, Minggu (19/8/2018).

Hal itu turut menambah tekanan pada harga sejumlah komoditas pertanian, karena mata uang sejumlah negara seperti Brasil dan Kolumbia yang ikut melemah membuat produsen lokalnya harus mendorong penjualan agar tidak terkena dampak penurunan harga.

Brasil merupakan pengekspor gula dan kopi terbesar di dunia, sedangkan Kolumbia menempati urutan kedua untuk ekspor biji kopi arabika.

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/8), harga gula mentah di Intercontinental Commodity Exchange (ICE) Futures tercatat anjlok 0,12 poin atau 1,17% menjadi US$10,18 sen per pon, secara year-to-date (ytd), gula ICE tercatat turun 32,85%. Harga tersebut merupakan yang terendah sejak Juni 2008.

Nick Gentile, rekanan manajer NickJen Capital Management di New York, mengungkapkan bahwa harga gula bisa merosot ke posisi US$8 sen per pon apabila kondisi ekonomi global terus memburuk. Harga komoditas tersebut terakhir kali dicapai pada September 2004 silam.

Pelemahan mata uang real Brasil ternyata “menyelamatkan” para produsen dan pengguna, karena mereka bisa menebus barang yang berdenominasi dolar AS dengan harga yang lebih rendah. “Mereka masih bisa hedging dan mendapatkan keuntungan dengan mata uang lokalnya,” kata Gentile.

“Yang menakutkan bagi petani adalah volume perdagangan yang masih cukup bagus dalam pelemahan harga ini, berarti masih banyak yang mau berjualan, mereka belum pergi dari perdagangan komoditas ini,” tambahnya, karena artinya petani harus terus melakukan panen saat harga gula sedang di level terendahnya.

Adapun, muncul tanda bahwa konsumen gula global diperkirakan semakin berkurang. Volume gula yang akan dikirim dari Brasil menurun hingga ke level terendah selama 10 tahun karena para calon pembeli masih menggunakan cadangan gula yang ditimbun sebelumnya untuk mengantisipasi harga gula yang terus turun karena surplus pasokan global.

Berdasarkan data agen pengiriman Williams, pelabuhan di Brasil kemungkinan hanya akan mengirimkan 1 juta ton bahan pemanis itu dalam beberapa pekan ke depan, setengah dari yang perkiraan pada tahun lalu, dan jumlah yang paling sedikit sejak 2008.

Data Kementerian Perdagangan Brasil mencatat permintaan gula juga semakin rendah pada masa panen musim ini yang berawal pada April lalu, dengan ekspor hingga Juli tercatat merosot 24% dari periode yang sama pada 2017.

“Para pembeli sudah membeli gula dengan harga yang lebih mahal dari harga saat ini. Sekarang mereka mengharapkan ada penurunan harga lebih lanjut utnuk melanjutkan pembelian,” kata Jeremy John Austin, Direktur Sucden, di Brasil.  Saat ini para pembeli gula masih menggunakan cadangan gula yang sudah dibeli sebelumnya.

Tag : komoditas, gula
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top