REKOMENDASI SAHAM: Mampukah Saham Kalbe Farma (KLBF) Sentuh Rp1.500?

Di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah yang membayangi emiten farmasi dalam negeri, sejumlah analis menilai bahwa saham PT Kalbe Farma Tbk. masih layak dikoleksi. Lantas, mampukah saham emiten berkode KLBF itu menembus level Rp1.500?
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 19 Agustus 2018  |  23:48 WIB
REKOMENDASI SAHAM: Mampukah Saham Kalbe Farma (KLBF) Sentuh Rp1.500?
Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Vidjongtius (kedua kiri), memberikan paparan didampingi Presiden Komisaris Irawati Setiady (dari kiri), Direktur Bernadus Karmin Winata, dan Direktur Bujung Nugroho, saat RUPST di Jakarta, Selasa (5/6/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Bisnis.com, JAKARTA -- Di tengah kondisi pelemahan nilai tukar rupiah yang membayangi emiten farmasi dalam negeri, sejumlah analis menilai bahwa saham PT Kalbe Farma Tbk. masih layak dikoleksi. Lantas, mampukah saham emiten berkode KLBF itu menembus level Rp1.500?

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham KLBF ditutup melemah 5 poin atau 0,41% ke level Rp1.210 pada penutupan perdagangan, Kamis (16/8). Sepanjang periode berjalan 2018, tercatat pergerakan mengalami koreksi 28,40%. Total kapitalisasi pasar yang dimiliki Rp56,71 triliun.

Adapun, dari sisi kinerja keuangan, KLBF membukukan pertumbuhan penjualan 3,12% secara tahunan pada semester I/2018. Jumlah yang dikantongi naik dari Rp10,06 triliun pada semester I/2017 menjadi Rp10,38 triliun pada semester I/2018.

Akan tetapi, beban pokok penjualan naik lebih besar dibandingkan dengan penjualan bersih perseroan. Tercatat, terjadi kenaikan 4,78% dari Rp5,14 triliun menjadi Rp5,38 triliun.

Kenaikan juga terjadi pada pos beban penelitian dan pengembangan perseroan dari Rp107,56 miliar pada semester I/2017 menjadi Rp122,51 miliar. Selanjutnya, beban operasi juga tercatat naik dari Rp48,78 miliar menjadi Rp79,93 miliar.

Dengan demikian, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun tipis 0,03% secara tahunan. Pencapaian Rp1.215,86 miliar pada semester I/2018 turun dari periode yang sama tahun lalu Rp1.216,25 miliar.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, analis PT Indo Premier Sekuritas Putri Tobing menyebut margin KLBF terbilang stabil pada semester I/2018. Tercatat, margin kotor 48,1% dan margin EBIT 15,6%.

Di sisi lain, Putri menyebut terjadi peningkatan kontribusi untuk kategori obat generik dari 17% pada semester I/2017 menjadi 18% pada semester I/2018. Diprediksi, akan terjadi peningkatan hingga 20% tahun depan sejalan dengan akselerasi program jaminan kesehatan.

Kendati demikian, dia masih memasang prediksi pertumbuhan pendapatan di level 4,8% atau di bawah prediksi 5%—7% yang dipasang perseroan. Akan tetapi, Indo Premier Sekuritas menaikkan rekomendasi yang diberikan. 

“Kami menaikkan peringkat dari sell menjadi hold dengan target harga Rp1.350 per saham,” ujarnya melalui riset, baru-baru ini.

Di sisi lain, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin menurunkan proyeksi pendapatan KLBF sebanyak 0,4% pada 2018 dan 0,5% tahun berikutnya. Kondisi itu sejalan dengan prediksi pertumbuhan yang lebih rendah di semua lini bisnis perseroan.

Namun, Mimi masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham KLBF dengan target harga Rp1.550 per saham. Sejumlah risiko yang digarisbawahi antara lain implementasi program jaminan kesehatan nasional yang lebih rendah dan pemulihan daya beli yang lebih lambat.

“Volatilitas nilai tukar rupiah yang lebih tinggi dan harga bahan baku juga dapat mengganggu profitabilitas KLBF ke depan,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kalbe farma

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top