Sentimen Bearish Masih Liputi Pergerakan Harga Tembaga

Sentimen bearish pada komoditas tembaga bisa jadi salah meski ancaman mogok kerja pada tambang terbesar dunia semakin mencuat.
Mutiara Nabila | 12 Agustus 2018 22:07 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen bearish pada komoditas tembaga bisa jadi salah meski ancaman mogok kerja pada tambang terbesar dunia semakin mencuat.

Data Pemerintah AS melaporkan bahwa taruhan hedge funds yang bernada bearish pada harga tembaga global telah melampui perkiraan bullishterbanyak sejak 2016. Sejumlah pialang utama di Shanghai Futures Exchange telah meningkatkan seluruh posisi jangka pendeknya hingga lebih dari 50%.

Sentimen pada komoditas logam merah itu berangsur semakin negatif meskipun kabar tentang buruh di tambang Escondida semakin memanas. Para pekerja tambang Escondida milik BHP Billiton Ltd. di Chili akan segera mengakhiri mediasi yang dipimpin oleh pemerintah setempat, setelah negosiasi upah berlangsung alot. Mogok kerja akan segera terlaksana, setidaknya pada Selasa (14/8) mendatang.

Harga tembaga Comex tercatat terjun hampir 17% selama tahun 2018 berjalan karena adanya kenaikan tensi perang dagang antara AS dan China yang mengancam pertumbuhan ekonomi global, memicu penurunan permintaan global pada logam merah tersebut untuk digunakan dalam pembangunan infrastruktur, rumah, kendaraan, dan gawai.

Analis Societe Generale SA Robin Bhar mengatakan bahwa pasar hanya terpaku pada masalah pertumbuhan global sehingga mengabaikan faktorbullish yang bisa membuat harga tembaga naik, karena adanya mogok kerja di tambang Chili.

“Pasar sepertinya tidak memberikan harga dengan benar. Tahun lalu, banyak pelaku pasar yang menaruh posisi jangka panjang, dan berujung pada awal rencana pemogokan kerja,” ujar Andrew Cosgrove, analis senior Bloomberg Intelligence, mengacu pada kemungkinan adanya risiko penyusutan pasokan tembaga global, dikutip dari Bloomberg, Minggu (12/8/2018).

Selama ini, tembaga kerap dijadikan barometer pertumbuhan ekonomi global. Harganya tercatat mengalami penurunan selama delapan pekan berturut. Pada penutupan perdagangan Jumat (10/8), tembaga Comex turun 0,83% atau 2,30 poin menjadi US$2,74 per pon, selama tahun berjalan harganya turun 16,91%.

Adapun, harga tembaga London Metal Exchange (LME) tercatat turun 35 poin atau 0,56% menjadi US$6.190 per ton, secara year-to-date (ytd) tercatat turun 14,59%. Sedangkan harga tembaga Shanghai mengalami penurunan 110 poin atau 0,22% menjadi 49.720 yuan per ton dan turun 10,50% sepanjang 2018.

Namun, sentimen saat ini dapat berubah sewaktu-waktu, kala mediasi gagal dan rencana mogok kerja di Escondida akhirnya terlaksana. Hal itu akan memaksa para pengelola keuangan dan pialang di AS dan China untuk menghilangkan sentimen bearish pada harga tembaga.

Dengan sentimen saat ini, tidak ada tameng yang dapat melindungi pengguna logam tersebut apabila ada kemerosotan pasokan secara tiba-tiba. Persediaan tembaga di LME merosot hingga sepertiganya sejak akhir Maret lalu, sedangkan yang ada di Comex tercatat berada di level terendah selama 10 bulan. Adapun, persediaan di Shanghai Futures Exchange berada di level terendah sejak Januari silam.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komoditas, komoditas tembaga

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top