Bloomberg Asia Pacific: Potensi Pertumbuhan Reksa Dana di Indonesia Masih Besar

Industri reksa dana diyakini akan terus berkembang di dalam negeri. Apalagi, dalam 5 tahun terakhir total aset dalam industri ini telah naik lebih dari 2 kali lipat.
Tegar Arief | 09 Agustus 2018 18:07 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Industri reksa dana diyakini akan terus berkembang di dalam negeri. Apalagi, dalam 5 tahun terakhir total aset dalam industri ini telah naik lebih dari 2 kali lipat.

"Angka ini masih 12% dari total kapitalisasi pasar dalam IHSG. Hal ini menunjukkan bahwa industri manajemen dana memiliki potensi pertumbuhan yang besar," kata Bloomberg Asia Pacific Head of Sales Taran Khera dalam keterangan tertulis, Kamis (9/8/2018).

Sementara itu, nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana nasional juga mengalami kenaikan yakni sebesar 1,4%. Per akhir bulan lalu, total NAB tercatat senilai Rp493,41 triliun, sedangkan NAB per akhir Juni mencapai Rp486,56 triliun.

Menurutnya, kenaikan ini didorong oleh peningkatan dana ekuitas, meskipun belakangan ini arus keluar modal dari pasar-pasar negara berkembang juga semakin meningkat.

"Reksa dana merupakan pilar utama dalam sektor keuangan Indonesia, dan memiliki peran penting dalam mendorong dinamisme dan inovasi dalam perekonomian."

Pada tanggal 1 Juni lalu, utang dalam denominasi rupiah Indonesia masuk dalam Indeks Bloomberg Global Aggregate untuk pertama kalinya. Hal ini memunculkan respon yang baik karena dapat memberikan pengaruh positif terhadap obligasi bernilai rupiah dalam jangka menengah dan mendorong lebih banyak investor asing agar mau bergabung dalam pasar obligasi.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati berharap arus modal masuk (capital inflow) meningkat US$5 miliar hingga US$7 miliar, dan dapat membantu Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam hal penjualan obligasi ke depannya.

Dia menambahkan, para pengelola asset di Indonesia masih fokus di pasar dalam negeri. Karena semakin banyak pembeli buyside Indonesia yang hendak berekspansi ke luar negeri, Khera menyatakan bahwa Indonesia perlu mengikuti best practice berstandar global dalam mengelola prortofolio, risiko, dan juga likuiditas agar mampu menarik para investor mancanegara.

Menurut white paper Bloomberg, para pengelola aset terdepan di dunia mulai mengimplementasikan pendekatan berbasis data yang berjangka panjang agar mampu mencapai target dan meningkatkan efisiensi operasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top