INDUSTRI REKSA DANA: Pencairan Dana Berlanjut

Kinerja industri reksa dana sepanjang Juli 2018 masih diwarnai oleh aksi pencairan dana oleh investor seiring dengan kondisi pasar yang masih berfluktuasi.
Tegar Arief | 03 Agustus 2018 07:35 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja industri reksa dana sepanjang Juli 2018 masih diwarnai oleh aksi pencairan dana oleh investor seiring dengan kondisi pasar yang masih berfluktuasi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan  (OJK), investor masih melakukan penarikan dana atau redemption sepanjang Juli 2018, melanjutkan aksi yang sama pada bulan sebelumnya.

Pada bulan lalu, pencairan bersih alias net redemption reksa dana mencapai Rp3,14 triliun. Jumlah tersebut  lebih rendah 65,72% dibandingkan dengan net redemption yang tercatat pada bulan sebelumnya senilai Rp9,16 triliun.

Adapun, sepanjang tahun berjalan 2018 per 31 Juli 2018, industri reksa dana masih mencatatkan net subscription senilai Rp48,48 triliun.

Sementara itu, nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana nasional hingga Juli 2018 tercatat Rp493,41 triliun atau naik 1,4% dibandingkan dengan perolehan per Juni 2018 senilai  Rp486,56 triliun.

Direktur Utama PT BNI Asset Management Reita Farianti mengatakan bahwa dalam 2 bulan terakhir memang banyak investor yang melakukan penarikan dana. Menurutnya, kondisi ini akan terus berlanjut hingga pengujung tahun ini seiring dengan kondisi pasar yang belum membaik. Hal tersebut membuat investor memilih untuk menarik dananya dari pasar reksa dana.

"Banyak yang redemption, karena untuk saat ini terutama nasabah institusi menganggap cash is the king. Adapun, bagi investor ritel, mereka sedang berstrategi untuk kemungkinan masuk lagi," kata dia di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/8/2018).

Menurutnya, fenomena redemption ini adalah dinamika yang biasa terjadi pada industri reksa dana. Sebagai manajer investasi besar, kata dia, BNI Asset Management harus mampu memenuhi permintaan redemption untuk menunjukan likuiditas.

Dia menambahkan, meski terjadi net redemption, bukan berarti tidak ada nasabah yang melakukan aksi pembelia atau subscription. "Yang subscription ada, tapi belum bisa mengejar redemption. Tapi nanti kalau market reli investor akan kembali masuk," imbuhnya.

Kendati tidak menyebut angka secara detail, Reita menegaskan bahwa dana kelolaan perseroan juga tergerus sejalan dengan banyaknya aksi redemption itu. Di sisi lain, banyak produk reksa dana terproteksi BNI Asset Management yang jatuh tempo pada tahun ini.

"Di luar redemption ada faktor reksa dana terproteksi juga, karena produk yang kami luncurkan pada tiga tahun lalu saat ini banyak yang jatuh tempo," ujarnya.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menambahkan, sebenarnya tidak seluruh manajer investasi mengalami redemption pada 2 bulan terakhir. Ada beberapa manajer investasi yang justri berhasil net subscription.

Hal itu tergantung dari strategi yang digunakan oleh masing-masing perusahaan. "Di Panin misalnya, karena ada produk baru reksa dana terproteksi maka kami berhasil net subscription. Memang tidak semua manajer investasi sama," kata dia.

Dengan adanya produk baru tersebut, perseroan juga berhasil meningkatkan dana kelolaan alias asset under management. "AUM tentu akan bertambah karena banyak investor yang melakukan pembelian produk," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top