Potensi Obligasi Hijau Indonesia Capai US$272 Miliar Hingga 2030

Bank Dunia memperkirakan potensi pendanaan berwawasan lingkungan seperti obligasi dan sukuk hijau di Indonesia berpotensi mencapai sekitar US$272 miliar hingga 2030 mendatang, atau setara Rp3.917 triliun dengan kurs Rp14.400 per dollar AS.
Emanuel B. Caesario | 02 Agustus 2018 05:48 WIB
Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja (kedua kanan) bertukar dokumen dengan Direktur Eksekutif IFC Philippe Le Hourou (kedua kiri) disaksikan oleh Presiden Komisaris Bank OCBC NISP Pramukti Surjaudaja (kiri) dan Direktur IFC Asia Timur, dan Pasifik Vivek Pathak (kanan) di Jakarta, Selasa (31/7). /Bisnis - Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Dunia memperkirakan potensi pendanaan berwawasan lingkungan seperti obligasi dan sukuk hijau di Indonesia berpotensi mencapai sekitar US$272 miliar hingga 2030 mendatang, atau setara Rp3.917 triliun dengan kurs Rp14.400 per dolar AS.

Philippe Le Houérou, Chief Executive Officer International Finance Corporation, bagian dari World Bank Group, mengatakan bahwa nilai tersebut merupakan estimasi yang menunjukkan tingginya potensi investasi hijau di Indonesia.

Sebagai salah satu negara hutan hujan tropis terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan serius pelestarian lingkungan hidup. Namun, hal ini sekaligus menjadi peluang besar bagi pengembangan inovasi-inovasi baru di berbagai bidang yang terkait upaya pelestarian alam.

Kesempatan ini terutama terbuka bagi sektor swasta di Indonesia untuk menggali peluang-peluang yang ada dan memanfaatkan sumber pendanaan global dan domestik untuk proyek berwawasan lingkungan di Indonesia.

“US$272 miliar ini adalah perkiraan Bank Dunia yang berpotensi untuk digali. Terlepas dari angka yang bersifat estimasi ini, nilai US$272 miliar ini ingin menunjukkan bahwa potensinya sangat besar sehingga Indonesia harus siapkan pasar untuk itu,” katanya, Rabu (1/8/2018).

Philippe mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan khususnya OJK dan bank-bank di Indonesia selama 2 tahun hingga akhirnya regulasi tentang green bond terbit akhir tahun lalu.

Aturan tersebut yakni Peraturan OJK Nomor 60/POJK.04/2017 tentang Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang Berwawasan Lingkungan (Green Bond).

IFC membantu membangun peta jalan pendanaan yang berkelanjutan untuk Indonesia, panduan obligasi hijau dan kebijakan yang mewajibkan bank di Indonesia untuk membangun dan melaporkan program pendanaan berkelanjutan mereka.

Kini, IFC juga menginisiasi pendanaan obligasi hijau pertama yang diterbitkan oleh PT Bank OCBC NISP Tbk. senilai US$150 juta. IFC menjadi investor tunggal bagi surat utang bertenor 5 tahun itu, yang merupakan obligasi hijau pertama yang diemisikan bank swasta di Indonesia.

Philip mengatakan, pendanaan hijau di Inonesia saat ini masih cukup rendah, sehingga langkah pertama ini penting untuk membuka dan mengembangkan pasar pendanaan hijau. IFC terbuka pada kerja sama dengan mitra lainnya untuk dukungan investasi dan saran profesional.

Dirinya berharap, inisiatif investasi dari IFC akan diikuti juga oleh pasar investor yang lebih luas bagi emisi-emisi green bond korporasi Indonesia selanjutnya. Dana hijau tersebut dapat digunakan untuk membiayai beragam proyek berwawasan lingkungan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top