Semester I/2018, Antam Jual 13,7 Ton Emas

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo menuturkan bahwa penjualan emas Antam pada paruh pertama 2018 mencapai 13,7 ton atau jauh melampaui penjualan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 3 ton.
Mutiara Nabila | 31 Juli 2018 09:25 WIB
Direksi PT Antam (Persero) Tbk. dalam peluncuran kemasan baru emas batangan ANTAM LM di Jakarta, Senin (30/7). - Bisnis/Mutiara Nabila

Bisnis.com, JAKARTA — Pencapaian penjualan emas PT Antam (Persero) Tbk. sudah mencapai 13,7 ton sepanjang semester I/2018. 

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Ariotedjo menuturkan bahwa penjualan emas Antam pada paruh pertama 2018 mencapai 13,7 ton atau jauh melampaui penjualan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 3 ton.

Secara keseluruhan, perseroan menargetkan pendapatan senilai Rp23 triliun pada 2018. Target tersebut meningkat hampir dua kali lipat dari capaian tahun lalu yang sebesar Rp12 triliun.

"Pada tahun ke-50 ini, terlihat bahwa kinerja Antam berkembang pesat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Diharapkan tahun ini menjadi kebangkitan menuju tahun keemasan," ujarnya di sela-sela peluncuran kemasan baru emas batangan ANTAM LM di Jakarta, Senin (30/7/2018).

Peluncuran kemasan dan motif baru emas ANTAM LM dilakukan sejalan dengan tingginya permintaan pasar saat ini. Langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan penjualan emas pada 2018.

Arie optimistis dalam empat tahun mendatang Antam bisa kembali menjual produk emasnya hingga 40 ton.

"Tahun lalu hanya 3 ton, padahal dulu [2015] pernah sampai 40 ton, makanya kami sekarang bekerja secara bertahap. Kami harap setahun ini bisa 25 ton, semoga dalam empat tahun bisa kembali 40 ton," ungkapnya.

Saat ini, Antam berkontribusi sebesar 70% terhadap total penjualan emas di Indonesia. Persentase ini meningkat dari sekitar 60% pada periode yang sama pada 2017.

Sebanyak 90% hasil produksi emas Antam diekspor ke luar negeri, dengan jumlah terbanyak dikirimkan ke Singapura. Negara lain yang menjadi sasaran adalah Thailand dan Jepang.

Ke depannya, perseroan ingin memperluas pasarnya di Asia Tenggara dengan menjual produksinya ke Malaysia dan negara-negara lainnya.

Terkait fluktuasi harga pada komoditas logam mulia emas, Arie menyatakan minat pada emas tidak mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan, permintaan terhadap emas di Indonesia semakin meningkat.

"Ada kemungkinan karena masyarakat sudah teredukasi soal trading emas. Emas dari dulu kan menjadi sarana investasi yang menjanjikan, hanya emas yang volatilitasnya bisa dikatakan cukup stabil," terangnya.

Arie memproyeksi harga emas global akan berada di kisaran US$1.280 per troy ounce pada akhir 2018.

Tag : antam
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top