Tiga Manajer Investasi Bakal Rilis Dinfra

Pencarian dana melalui penerbitan produk investasi alternatif tengah menjadi primadona, termasuk melalui dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif atau dinfra.
Tegar Arief | 31 Juli 2018 20:12 WIB
Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) Ferry I. Zen (dari kiri), berbincang dengan Direktur Utama Alvin Pattisahusiwa, dan Direktur S Endang Astharanti di sela-sela Market Outlook 2018, di Jakarta, Kamis (25/1). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pencarian dana melalui penerbitan produk investasi alternatif tengah menjadi primadona, termasuk melalui dana investasi infrastruktur berbentuk kontrak investasi kolektif atau dinfra.

PT Mandiri Manajemen Investasi menjadi manajer investasi ketiga yang berencana menerbitkan Dinfra pada tahun ini. Sebelum Mandiri Manajemen Investasi, dua manajer investasi lainnya yang akan meluncurkan produk Dinfra adalah PT PayTren Aset Manajemen dan PT Ayers Asia Asset Management.

Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi Endang Astharanti menjelaskan, meskipun terbilang baru, Dinfra merupakan produk investasi alternatif yang cukup menjanjikan. Menurutnya, Dinfra memiliki fleksibilitas yang tinggi dibandingkan dengan produk sejenis lainnya.

"Sejauh ini masih belum ada manajer investasi yang merealisasikan peluncuran Dinfra. Ini menarik karena investasi baru dan produknya sangat fleksibel. Kalau bisa kami luncurkan tahun ini akan bagus," kata dia di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (31/7/2018).

Saat ini, perseroan tengah menjajaki beberapa proyek untuk dijadikan sebagai aset dasar. Namun yang pasti, kata Asti, proyek yang disasar adalah proyek milik badan usaha milik negara (BUMN).
"Dananya berapa masih belum, proyeknya apa juga masih belum karena ini masih penjajakan. Tapi yang pasti proyeknya BUMN," ujarnya.

Sejauh ini, manajer investasi yang telah memastikan target Dinfra adalah PT Ayers Asia Asset Management yang akan menghadirkan dua produk Dinfra. Total, kedua produk tersebut bernilai Rp400 miliar dengan masing-masing proyek senilai Rp200 miliar.

"Agustus akan kami luncurkan satu Dinfra. Ini menggunakan proyek properti mal yang terintegrasi dengan apartemen," kata Direktur Utama PT Ayers Asia Asset Management Dastin Mirjaya Mudijana.

Dia mengklaim, respons pasar terhadap produk Dinfra cukup bagus mengingat mayoritas investor memang menginginkan imbal hasil atau return yang pasti.

Adapun, PT PayTren Aset Manajemen menyiapkan tiga Dinfra pada tahun ini, yang salah satunya merupakan proyek rumah sakit. Direktur Utama PT PayTren Aset Manajemen Ayu Widuri mengatakan produk ini akan menjadi stimulus bagi perseroan untuk meningkatkan dana kelolaan alias asset under management (AUM).

Menurutnya, Dinfra lebih strategis dan menjanjikan dibandingkan dengan produk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT). Melalui RDPT, investor ritel memiliki keterbatasan akses saat hendak berinvestasi pada produk tersebut.

"Melalui Dinfra potensi investor ritel tetap bisa masuk, jika dibandingkan misalnya dengan RDPT yang maksimal 49 klien dan tidak bisa menjangkau ritel," kata dia.

Tag : investasi, pasar modal
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top