Investor Fokus ke Pertemuan Bank Sentral, Indeks Dolar AS Berbalik Menguat

Investor Fokus ke Pertemuan Bank Sentral, Indeks Dolar AS Berbalik Menguat Tipis
Aprianto Cahyo Nugroho | 30 Juli 2018 09:13 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARA - Dolar Amerika Serikat berbalik menguat pada perdagangan pagi hari ini, Senin (30/7/2018), karena pelaku pasar menunggu pertemuan utama sejumlah bank sentral pekan ini.

Indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, terpantau berbalik menguat 0,01% atau 0,005 poin ke level 94,674 pada pukul 8.23 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka melemah 0,01% ke level 94,664, setelah pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu (27/7/2018), ditutup melemah 0,12% atau 0,116 poin ke level 94,669.

Dilansir Bloomberg, fokus tertuju pada rapat Bank of Japan yang berlangsung pada 30-31 Juli, dan Federal Reserve yang dijadwalkan pada 31 Juli – 1 Agustus. Bank of England juga dijadwalkan membuat keputusan kebijakan pada hari Kamis.

Sebelumnya, data produk domestik bruto AS kuartal kedua yang optimis gagal mengangkat greenback, karena sebagian besar analis telah memprediksikan angka yang kuat.

Masafumi Yamamoto, kepala strategi valas di Mizuho Securities di Tokyo, mengatakan investor akan lebih tertarik pada data PDB AS bulan Juli, ketika tarif terhadap barang-barang impor asal China mulai berlaku.

"Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun meningkat, menggarisbawahi ekspektasi kenaikan suku bunga yang kuat di pasar. Ini membatasi kerugian dolar, meskipun pergerakan cenderung terbatas menjelang pertemuan BOJ," kata Yamamoto, seperti dikutip Bloomberg.

Imbal hasil obligasi Treasury bertenor dua tahun naik ke level tertinggi satu dalam dekade sebesar 2,69% menjelang akhir pekan lalu.

Pasar keuangan ingin melihat apakah BOJ mempertimbangkan langkah-langkah untuk membuat program stimulus besar-besaran lebih berkelanjutan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
dolar as

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top