Semester I/2018, Kerugian GIIA Menipis Berkat Efisiensi

Upaya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. untuk melakukan efisiensi di seluruh lini mulai menampakkan hasil. Dalam dua kuartal terakhir, kerugian yang diderita maskapai pelat merah tersebut konsisten mengecil.
Dara Aziliya | 30 Juli 2018 19:19 WIB
Penumpang bersiap menaiki pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Frans Kaisiepo Biak, Papua, Selasa (29/10/2013). - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Upaya PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. untuk melakukan efisiensi di seluruh lini mulai menampakkan hasil. Dalam dua kuartal terakhir, kerugian yang diderita maskapai pelat merah tersebut konsisten mengecil.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, Garuda Indonesia membukukan rugi bersih sebesar US$116,86 juta selama semester I/2018, mengecil 58,55% dibandingkan kerugian bersih yang diderita perseroan pada semester I/2017 yang mencapai US$281,92 juta.

Emiten dengan kode saham GIAA tersebut menempuh sejumlah upaya untuk mengejar target laba US$8- juta—US$10 juta laba pada tahun ini seperti restrukturisasi rute, meningkatkan utilisasi kursi, renegosiasi biaya leasing, hingga mendorong kinerja finansial entitas anak.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansuri mengungkapkan perseroan memaksimalkan pendapatan dari beberapa sumber seperti ancillary revenue dan lini kargo untuk membantu menyubtitusi kehilangan potensi pendapatan dari kenaikan harga bahan bakar.

“Di tengah pelemahan rupiah, pendapatan kami tumbuh 6% dan expense kami relatif stagnan atau sama dengan tahun lalu, hanya biaya untuk fuel yang naik 12% sedangkan biaya rental pesawat dapat kami jaga. Pengeluaran perusahaan flat itu terdampak dari efisiensi dan renegosiasi dengan banyak pihak,” ungkap Pahala di Jakarta, Senin (30/7).

Selama semester I/2018, perseroan membukukan pendapatan operasional sebesar US$1,99 miliar atau meningkat 5,9% dibandingkan semester I/2017, sedangkan biaya operasional tercatat hanya meningkat 0,3% menjadi US$2,1 miliar.

Pendapatan lain-lain (ancillary revenue) perseroan meningat cukup signifikan yaitu sebesar 27,5% menjadi US$46,3 juta, dan pendapatan dari bisnis kargo meningkat 7,6% menjadi US$124,5 juta.

Perseroan mencatat selama semester I/2018, Garuda Indonesia mengangkut 18,7 juta penumpang atau meningkat 8,3% (yoy). Pendapatan perseroan dari lini penumpang tercatat sebesar US$1,54 miliar, meningkat 1,9% dibandingkan semester I/2017 yang sebesar US$1,51 miliar.

Pahala menyampaikan setelah perapian rute, porsi operasional pesawat perseroan antara rute nasional dan internasional cukup seimbang, sehingga pendapatan perseroan dalam denominasi dolar pun cukup besar.

“Untuk Citilink, kami akan fokuskan operasionalnya untuk rute-rute nasional, sedangkan Garuda Indonesia pada tahun ini dan tahun depan akan kami fokuskan untuk pengembangan rute-rute internasional,” jelas Pahala.

Dia mengaku dengan pelemahan nilai tukar rupiah, ambisi perseroan untuk dapat mulai break even point (BEP) pada tahun ini kian berat. Untuk dapat mengejar target laba bersih 2018 sebesar US$8 juta, perseroan akan memaksimalkan potensi sumber-sumber pendapatan.

“Kami masih harus melihat sumber-sumber pendapatan lain untuk dapat mengimbangi kenaikan biaya fuel, baik dari bisnis kargo, pendapatan lainnya, dan termasuk renegosiasi biaya-biaya leasing kami yang bisa membantu cost saving,” jelas Pahala.

Berdasarkan catatan perseroan, selama semester I/2018 GIAA telah menurunkan jumlah penerbangan yang menyumbang defisit dari sebelumnya 22 rute, menjadi saat ini sebanyak 11 rute.

Tag : garuda indonesia
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top