Emas Terkerek Setelah Kemunculan Data Pertumbuhan Ekonomi AS

Harga emas kembali menguat setelah mata uang dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan karena data ekonomi AS yang cukup kuat dan masih ada kekhawatiran tentang tensi perdagangan antara AS dengan Eropa.
Mutiara Nabila | 29 Juli 2018 19:04 WIB
Harga emas - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas kembali menguat setelah mata uang dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan karena data ekonomi AS yang cukup kuat dan masih ada kekhawatiran tentang tensi perdagangan antara AS dengan Eropa.

Dolar AS merosot di hadapan sekeranjang mata uang setelah data pertumbuhan ekonomi AS mencapai titik tertinggi per kuartalnya dalam empat tahun terakhir gagal menghapus kekhawatiran akan spekulasi friksi perdagangan yang akan berlangsung hingga semester II/2018.

Greenback menyerah dari kenaikan sebelumnya dengan indeksnya turun 0,11% dan berada di posisi 94,66 setelah AS melaporkan bahwa data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)-nya naik menjadi 4,1% dalam setahun di kuarta II/2018, sesuai dengan perkiraan sejumlah ekonom.

“Dolar AS melemah dan selanjutnya imbal hasil treasury. Pelemahan dolar AS sepertinya akan terus berlanjut, maka emas akan mendapatkan dorongan dalam jangka pendek,” kata Walter Pehowich, Wakil Presiden Dillon Gage, dilansir dari Reuters, Minggu (29/7).

Pelemahan dolar AS membuat emas yang dihargai dengan dolar AS menjadi lebih murah di mata investor di luar AS. Imbal hasil tenor 10 tahun AS juga tergelincir dari level tertingginya selama 1 ½ bulan.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/7), harga emas spot berada pada posisi US$1.224,22 per troy ounce, naik 1,54 poin atau 0,13% dari posisi sebelumnya.

Dengan harga tersebut, emas spot tercatat mengalami penurunan hingga 6,03% selama tahun berjalan.

Harga emas spot sebelumnya sempat menyentuh level terendahnya pada posisi US$1.216,93 per troy ounce, dan dalam jalurnya untuk mencatatkan penurunan mingguan ketiga kalinya hingga sekitar 0,5%.

Sementara itu, harga emas Comex justru mengalami penurunan 2,60 poin atau 0,21% menjadi US$1.232,70 per troy ounce dan tercatat turun 6,59% secara year-to-date­ (ytd).

Di pasar fisik, permintaan di India mengalami peningkatan pada pekan lalu karena harga emas di perdagangan domestiknya mencapai level terendah selama enam bulan.

Sementara itu, di Singapura, harganya yang rendah juga memicu kenaikan permintaan.

Namun, permintaan tetap lemah dari negara pengguna emas terbesar di dunia, China karena mata uang yuan terus mengalami pelemahan di hadapan dolar AS.

Sejumlah analis Barclays Plc menyebutkan bahwa merekan yakin pergerakan harga emas akan melemah pada beberapa pekan kedepan karena permintaan fisiknya sedang melambat. bunga jangka pendeknya juga terus bertambah karena harganya turun, ada sekitar 200 ton posisi loss-making ETF yang bisa dilikuidasi.

“Harga emas diperkirakan akan kembali merosot ke kisaran US$1.206 per troy ounce – US$1.214 per troy ounce,” ungkap Wang Tao, analis teknikal Reuters.

Selain itu, Pehowich menambahkan bahwa resistan harga emas akan berada di posisi US$1.236 per troy ounce.

Pada logam mulia spot lainnya, perak mencatatkan kenaikan 0,13 poin atau 0,82% menjadi US$15,51 per troy ounce dengan penurunan sepanjang tahun berjalan sebanyak 8,45%.

Logam platinum spot juga mengalami kenaikan sebesar 6,21 poin atau US$831,12 per troy ounce dan turun 10,46% secara ytd.

Sementara itu, logam paladium spot mengalami penurunan hingga 4,08 poin atau 0,44% menjadi US$925,40 per troy ounce. Harga paladium spot mencatatkan penurunan hingga 12,99% selama tahun berjalan.

Tag : Harga Emas Hari Ini, emas
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top