Penghuni IDX30 Berubah, MI Atur Ulang Portofolio Investasi

Perubahan konstituen pada sejumlah indeks saham memaksa manajer investasi untuk merombak portofolio investasi. Terutama, untuk produk reksa dana yang menggunakan underlying asset emiten dengan nilai kapitalisasi pasar cukup besar.
Tegar Arief | 29 Juli 2018 09:33 WIB
Pengunjung melintas di samping papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (27/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Perubahan konstituen pada sejumlah indeks saham memaksa manajer investasi untuk merombak portofolio investasi. Terutama, untuk produk reksa dana yang menggunakan underlying asset emiten dengan nilai kapitalisasi pasar cukup besar.

Head Investment Avrist Asset Management, Farash Farich menjelaskan ada dua indeks yang sering dijadikan acuan untuk produk reksa dana, yakni LQ45 dan IDX30, di mana komposisi saham keduanya juga berubah.

Menurutnya, reksa dana indeks dan exchange traded fund (ETF) akan menyesuaikan dengan saham yang masuk dan keluar. "Untuk produk lainnya juga sama, terutama terkait saham yang kapitalisasinya cukup besar," kata dia kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Dia mencontohkan saham PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) yang masuk ke dalam IDX30 selama periode Agustus 2018-Januari 2019. Ini akan mempengaruhi strategi fund manager mengingat saham INKP terus menanjak dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, fund manager juga akan melihat reksa dana lain yang menggunakan benchmark indeks terkait, apakah perubahan konstituen di benchmark tersebut berpengaruh ke potensi reksa dana baik outperform atau underperform benchmark, sehingga dilakukan rebalancing.

"Rebalancing ini penting untuk bisa outperform. Portofolio harus menyesuaikan perubahan yang diperlukan untuk menjaga tracking error terhadap indeks tetap rendah untuk reksa dana indeks dan ETF," jelasnya.

Saham-saham yang masuk ke LQ45 periode Agustus 2018-Januari 2019 adalah PT Sentul City Tbk. (BKSL), PT ELnusa Tbk. (ELSA), PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG), PT Medcio Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan INKP.

Kelima emiten itu menggantikan PT Global Mediacom Tbk. (BMTR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Hanson International Tbk. (MYRX), PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON), dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM).

Sedangkan emiten yang masuk ke IDX30 adalah INKP, MEDC, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP). Mereka menggantikan BMTR, PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), PWON, dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS).

Perubahan strategi juga dilakukan oleh PT BNP Paribas Investment Partners. Selain karena adanya perubahan indeks, masih belum terangkatnya pergerakan harga saham memaksa perseroan juga mengubah strategi.

Apalagi, mayoritas produk reksa dana yang dipasarkan oleh perusahaan tersebut menggunakan underlying asset saham. Setidaknya, 50% produk reksa dana BNP Paribas menggunakan aset dasar saham.

"Ini murni karena pasar yang lemah, otomatis ada perubahan strategi investasi itu karena kami banyak produk di saham," kata Direktur and Head of Marketing PT BNP Paribas Investment Partners, Maya Kamdani.

Dia menjelaskan perubahan strategi itu akan dilakukan untuk memanfaatkan momentum. Pasalnya, di tengah menurunnya harga saham banyak investir justru mulai melakukan pembelian produk reksa dana karena harga yang terjangkau.

Ini berbeda dengan kondisi jika pasar saham menanjak, di mana banyak investor yang melakukan aksi ambil untung alias profit taking untuk masuk ke produk dengan tingkat risiko yang lebih rendah yakni reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap.

"Tren peralihan ada, tapi sejalan dengan harga yang murah ini banyak investor mulai masuk. Strategi meracik portofolio tentu akan kami sesuaikan dengan kondisi pasar," ujarnya.

Tag : manajer investasi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top