Penghuni Baru Bakal Dorong Indeks LQ45

Masuknya lima penghuni baru dalam Indeks LQ45 diharapkan dapat memacu performa indeks konstituen tersebut yang cenderung melesu sepanjang 2018.
Hafiyyan | 26 Juli 2018 21:33 WIB
Pengunjung mengamati papan monitor yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA — Masuknya lima penghuni baru dalam Indeks LQ45 diharapkan dapat memacu performa indeks konstituen tersebut yang cenderung melesu sepanjang 2018.

Kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan 5 saham yang masuk sebagai daftar Indeks LQ45 untuk periode Agustus 2018—Januari 2019. Kelima saham itu ialah BKSL, ELSA, INKP, ITMG, dan MEDC.

Adapun, 5 saham lainnya yang terdepak dari daftar 45 saham paling likuid itu ialah BMTR, BUMI, MYRX, PWON, dan TRAM.

Associate Director Sinarmas Sekuritas Jeffrosenberg Tan menyampaikan, dalam jangka pendek 5 saham penghuni baru Indeks LQ45 berpotensi meningkat seiring dengan rebalancing portofolio Manajer Investasi (MI). Pasalnya, akan banyak dana segar yang mengalir masuk.

Adapun, dalam jangka panjang diharapkan anggota baru dapat kembali mengangkat performa LQ45. Dengan demikian, pergerakan 45 saham itu turut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai akhir tahun ini.

“Bila kondisi makro global lebih stabil, seharusnya LQ45 dan IHSG dapat menguat kembali,” ujarnya, Rabu (25/7/2018).

Sepanjang 2018, kinerja Indeks LQ45 memang belum memuaskan. Pada penutupan perdagangan Rabu (25/7), indeks turun 2,67 poin atau 0,28% menjadi 936,47. Secara year to date (ytd) harga terkoreksi 13,24%.

Padahal, secara ytd IHSG hanya menurun 6,64%. Hari ini [kemarin], indeks ditutup menguat 2,05 poin atau 0,03% menjadi 5.933,89.

Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan mengungkapkan, pemilihan penghuni LQ45 yang baru berdasarkan pada data historis. Tiga faktor yang diperhatikan ialah saham tersebut memiliki likuditas menarik, kapitalisasi pasar yang cukup besar, dan prospek kinerja yang positif.

“Jadi masuknya saham-saham baru ke LQ45 sudah proven dari sisi likuiditas saham dan proyeksi kinerjanya secara industri,” tuturnya.

INKP misalnya sejak awal tahun kapitalisasi pasarnya sudah mencapai 8—10 kali lipat menjadi. Hari ini, saham tersebut naik 750 poin atau 4,19% menjadi Rp18.650.

Secara ytd harga melonjak 245,37% dengan kapitalisasi pasar Rp102,03 triliun. Price to Earning Ratio (PER) masih menarik di level 11,96 kali.

Dari sisi industri, prospek emiten Sinar Mas Group ini juga terdorong kenaikan harga pulp akibat peningkatan permintaan bahan kertas.

Selain itu, prospek kinerja ELSA dan MEDC terdorong oleh memanasnya kembali harga minyak. Artinya, level harga di atas US$65 per barel saat ini jauh lebih baik dibandingkan 2-3 tahun silam, misalnya saat harga terjerembab di US$30 per barel pada awal 2016.

Kinerja ITMG juga terdorong oleh harga komoditas batu bara. Apalagi, perseroan mendapatkan keuntungan nilai tukar karena berorientasi pasar ekspor.

Sementara itu, saham-saham yang terdepak dalam daftar Indeks LQ45 adalah BMTR, BUMI, MYRX, PWON, dan TRAM. Sepanjang tahun berjalan, hanya TRAM dan MYRX yang menghijau, masing-masing sebesar 84,85% dan 27,27%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top