Stok Minyak AS Anjlok, Harga Kembali Terkerek

Harga minyak mentah kembali menghijau setelah sekelompok industri minyak melaporkan adanya penurunan persediaan minyak mentah, gasolin, minyak sulingan, dan persediaan minyak di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Penyusutan tersebut menunjukkan adanya penguatan permintaan musiman di Amerika Serikat.
Mutiara Nabila | 25 Juli 2018 22:36 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah kembali menghijau setelah sekelompok industri minyak melaporkan adanya penurunan persediaan minyak mentah, gasolin, minyak sulingan, dan persediaan minyak di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma. Penyusutan tersebut menunjukkan adanya penguatan permintaan musiman di Amerika Serikat.

Perdagangan berjangka minyak AS mengalami lonjakan dari penutupan perdagangan Selasa (24/7) setelah American Petroleum Institute (API) yang melaporkan persediaan minyak di seluruh AS turun 3,16 juta barel pada pekan lalu.

Pada saat yang sama, API mengindikasikan akan adanya penurunan persediaan di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma, yang mencatatkan penurunan selama 10 pekan berturut apabila cocok dengan data yang dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pada Rabu (25/7) malam waktu setempat.

“Sedikit mengejutkan karena hal itu terjadi di seluruh bagian AS. Laporan tersebut tentu memberikan sentimen bullish. Laporan tersebut cukup normal karena adanya musim mengemudi,” kata James William, Presiden Bidang Riset Energi WTRG Economics, dikutip dari Bloomberg, Rabu (25/7/2018).

Harga minyak sudah mengalami penurunan hingga hampir 8% selama bulan ini karena adanya kenaikan tensi perang dagan antara AS dengan China yang mengancam permintaan energi global. Kemudian, harga minyak kembali mengalami kenaikan dengan cepat pada Senin (23/7) setelah perang pernyataan dari AS dan Iran terkait dengan ekspor minyak, yang saat ini sudah kembali melunak.

Meskipun begitu, investor tetap berfokus pada ketakutan akan adanya kelebihan pasokan karena produsen minyak seperti Arab Saudi berjanji akan mendorong hasil produksinya untuk menyeimbangkan kekurangan pasokan dari negara lain.

Pada perdagangan Rabu (25/7) pukul 13.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,16 poin atau 0,23% berada pada posisi US$68,68 per barel dari posisi penutupan sesi hari sebelumnya. Secara year-to-date (ytd) harga minyak WTI naik 13,67%.

Adapun, harga minyak Brent tercatat mengalami kenaikan 0,45 poin atau 0,61% dan berada pada posisi US$73,89 per barel dari penutupan sesi sebelumnya. Harga minyak Brent tercatat sudah mengalami kenaikan sebanyak 10,50% sepanjang tahun ini. Harga Brent saat ini premium US$5,21 per barel dari WTI Juli.

Kontrak Brent disinyalir akan mendapat surplus untuk jangka pendek. Kontrak Septembernya diperdagangkan US$36 sen lebih rendah dari kontrak Oktober, karena produksi minyak dari Libya yang kembali naik sehingga menenangkan kekhawatiran akan pasokan setelah adanya gangguan dari tenaga kerja di platform Laut Utara yang diperasikan oleh Total SA.

Di AS, persediaan minyaknya saat ini berada pada posisi 411 juta barel, mendekati level terendahnya sejak Februari 2015. Laporan resmi dari Pemerintah AS memprediksikan bahwa persediaan minyak AS akan mengalami penurunan slebih dari 3 juta barel pada persediaan minyak komersilnya.

Prediksi dari Bloomberg Intelligence menunjukkan bahwa persediaan minyak di pusat penyimpanan Cushing diperkirakan akan meyusut 900.000 barel pada pekan lalu.

API juga melaporkan persediaan gasolinenya merosot 4,87 juta barel. Penurunan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak Maret jika data EIA mengonfirmasi. Selain itu, persediaan minyak sulingannya juga anjlok 1,32 juta barel dan persediaan keseluruhan minyak di Cushing merosot 808.000 barel.

“Apa yang kami lihat pada angka jumlah persediaan minyak akan meningkatkan volatilitas harga minyak. Realitanya, saat ini merupakan musim mengemudi yang menyebabkan permintaan gasoline melonjak. Cushing akan tetap beroperasi sekuat tenaga agar persediaan minyaknya tetap ada hingga Hari Buruh,” ungkap Bill O’Grady, Kepala Ahli Strategi Pasar Confluence Investment Management LLC.

Analis PT Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra mengungkapkan bahwa laporan API yang menujukkan penurunan persediana minyak di AS lebih banyak dari perkiraan akan berpotensi melanjutkan penguatan harga minyak mentah.

“Penguatan harga berpotensi berlanjut hari ini jika EIA pada pukul 21.30 WIB melaporkan penurunan stok di AS lebih dari 2,6 juta barel,” kata Putu, dikutip Bisnis dalam laporan hariannya, Rabu (25/7/2018).

Putu memproyeksikan harga minyak akan bergerak pada kisaran US$67,50 per barel – US$70,30 per barel selama sepekan ke depan.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top