Rupiah Masih di Level 14.500, IHSG Fluktuatif di Awal Dagang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada awal perdagangan hari ini, Rabu (25/7/2018), di tengah tren pelemahan rupiah.
Renat Sofie Andriani | 25 Juli 2018 10:07 WIB
Pengunjung mengamati papan monitor yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif pada awal perdagangan hari ini, Rabu (25/7/2018), di tengah tren pelemahan rupiah.

IHSG dibuka dengan kenaikan 0,16% atau 9,29 poin di level 5.941,13 dan berbalik ke zona merah dengan turun 0,08% atau 4,52 poin ke level 5.927,32 pada pukul 09.13 WIB. Pada perdagangan Selasa (24/7), IHSG berakhir menguat 0,27% atau 16,05 poin di level 5.931,84.

Empat dari sembilan indeks sektoral IHSG bergerak di zona merah dengan tekanan utama sektor infrastruktur (-0,30%) dan finansial (-0,29%). Adapun lima sektor lainnya bergerak positif, dipimpin sektor tambang yang naik 0,72%.

Sebanyak 122 saham menguat, 37 saham melemah, dan 438 saham stagnan dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pagi ini pukul 09.13 WIB.

Sementara itu, nilai tukar rupiah hari ini rebound dan terapresiasi 30 poin ke level Rp14.515 per dolar AS pada pukul 08.55 WIB.

Meski rebound, mata uang Garuda masih bergerak di kisaran level terlemahnya sejak Oktober 2015. Pada perdagangan Selasa (24/7), rupiah berakhir melemah 63 poin di level Rp14.545 per dolar AS.

Kiwoom Sekuritas Indonesia memprediksikan potensi berlanjutnya penguatan IHSG pada perdagangan hari ini dengan support dan resistance di level 5.923-5.944, kendati secara umum masih dibayangi sentimen negatif perang dagang.

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus memaparkan, dalam kondisi perekenomian yang kurang baik, Pemerintah China akan melancarkan tindakan fiskal dan melonggarkan stimulus demi mendorong perekonomiannya.

Di tengah perselisihan dagang global, China dinilai memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan eksistensi sebagai negara pengekspor. Pelemahan yuan dilihat justru dapat dimanfaatkan dengan baik, meskipun berpotensi menyeret rupiah melemah lebih dalam.

"Pelemahan rupiah kami prediksi bisa ke titik Rp14.600, ini merupakan satu fase sebelum Rp14.700 yang pernah dicapai pada 2015," ujar Nico dalam riset harian, Rabu (25/7).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis27 tergelincir ke zona merah dan turun 0,11% atau 0,55 poin ke level 514,28 pada pukul 09.14 WIB, setelah dibuka di zona hijau dengan kenaikan 0,21% atau 1,09 poin di posisi 515,92.

Indeks saham lain di kawasan Asia Tenggara terpantau bergerak positif pagi ini, dengan indeks FTSE Malay KLCI (+0,02%), indeks FTSE Straits Time Singapura (+0,55%), dan indeks PSEi Filipina (+0,88%).

Di kawasan Asia lainnya, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing naik 0,52% dan 0,51%, indeks Kospi Korea Selatan turun tipis 0,05%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing naik 0,07% dan 0,11%.

Secara keseluruhan bursa Asia menguat pagi ini, didorong kuatnya laporan keuangan korporasi di Amerika Serikat serta harapan dukungan fiskal oleh pemerintah China untuk perekonomiannya.

Pada perdagangan Selasa (24/7), indeks Standard & Poor’s 500 ditutup pada level tertinggi sejak 1 Februari menyusul lonjakan saham Alphabet Inc yang menopang ekspektasi musim pelaporan keuangan yang kuat.

Saham-saham yang melemah pada awal perdagangan:

BBRI

-1,33%

BMRI

-0,38%

ISAT

-2,20%

AMRT

-1,20%

 

 

 

Saham-saham yang menguat pada awal perdagangan:

ASII

+0,75%

UNTR

+1,14%

INKP

+1,40%

CPIN

+1,59%

 Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top