Lonjakan Imbal Hasil AS Dorong Greenback Perkasa, Rupiah Layu

Hampir seluruh mata uang Asia melemah di hadapan dolar Amerika Serikar setelah China kembali mengumumkan langkah-langkah pelonggaran moneter. Sementara di sisi lain imbal hasil keuangan AS pada Senin (23/7) melonjak sehingga mendorong pengutan dolar dan menambah tekanan pada obligasi regional.
Mutiara Nabila | 24 Juli 2018 21:56 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Hampir seluruh mata uang Asia melemah di hadapan dolar Amerika Serikar setelah China kembali mengumumkan langkah-langkah pelonggaran moneter. Sementara di sisi lain imbal hasil keuangan AS pada Senin (23/7) melonjak sehingga mendorong pengutan dolar dan menambah tekanan pada obligasi regional.

China baru saja mengeluarkan sejumlah paket kebijakan, mulai dari pemangkasan pajak yang ditujukan membantu pengembangan riset pada sejumlah obligasi khusus untuk pengembangan infrastruktur, untuk mendorong permintaan domestik karena perang dagang menimbulkan ancaman akan menghambat pertumbuhan global.

“Kicauan Trump dalam akun Twitter-nya tentang pasar mata uang pada akhir pekan lalu hanya memberikan dampak minimal pada dolar AS yang melemahkannya sementara, sekarang justru kembali menguat lagi,” ujar Khoon Goh, Kepala Riset Asia ANZ Banking Group di Singapura, dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/7/2018).

Goh menambahkan, untuk mata uang Asia ada pembicaraan terkait dengan kebijakan moneter China yang memicu pelemahan mata uang yuan menjadi semakin dalam. Pelemahan yuan saat ini menunjukkan bahwa pemerintahnya masih lepas tangan dalam melakukan pendekatan perdagangan yang bisa membawa pelemahan yuan menular ke mata uang di Asia lainnya.

Imbal hasil obligasi untuk tenor 10 tahun milik AS terkerek tipis menjadi 2,96% setelah mengalami lonjakan 6 basis poin pada Senin (23/7) menyebabkan dolar menguat dan mata uang Asia melemah secara serentak.

Mata uang garuda menjadi salah satu yang memimpin pelemahan terparah di antara pelemahan mata uang Asia lainnya yang kembali menembus Rp14.545 per dolar AS. Rupiah melemah 63 poin atau 0,43% pada perdagangan Senin (24/7), dan melemah 7,33% selama tahun berjalan. Di antara seluruh mata uang Asia, hanya dolar Hongkong dan yen Jepang yang mengalami penguatan.

“Rupiah kemungkinan bisa menembus Rp14.600-an per dolar AS karena faktor eksternal, tetapi akan sulit untuk menjual rupiah, karena mata uang itu merupakan salah satu yang imbal hasilnya tinggi,” ujar Gao Qi, Ahli Strategi Mata Uang di Scotiabank Singapura.

Adapun, Bank Manulife Asset Management tetap memberikan sentimen positif pada obligasi Indonesia karena fundamental domestiknya yang cukup baik dan kebijakan manajemen fiskalnya berada dalam keadaan baik.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono menuturkan bahwa pelemahan rupiah masih karena faktor dari penguatan dolar AS. Wahyu memprediksi bahwa sentimen terhadap rupiah masih akan terus bullish.

“Secara fundamental, mata uang Indonesia sangat rentan dan sensitif terhadap gejolak di pasar global terutama jika ada faktor dari AS. Dari faktor domestik, pelemahan rupiah terdorong oleh semakin dekatnya tahun politik” ujar Wahyu kepada Bisnis, Selasa (24/7/2018).

Wahyu menilai, apabila ada intervensi yang dilakukan Pemerintah Indonesia atau Bank Indonesia (BI) saat ini hanya akan menjadi “obat penghilang rasa sakit”. Jika ada intervensi, hanya sekadar membantu agar pelemahan rupiah tidak semakin buruk dan tidak memicu krisis.

Wahyu memproyeksikan rupiah bisa menyentuh Rp14.800-an apabila ancaman dari faktor luar negeri terus berlanjut. Jika tetap bullish dan level tersebut dapat ditembus, maka rupiah masih mungkin mencapai Rp15.000 – Rp16.000 per dolar AS.

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah, dolar as
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top