Harga Minyak Anjlok Seiring Lonjakan Cadangan AS & Permintaan Susut

Harga minyak merosot setelah kemunculan kabar kenaikan persediaan minyak AS pada akhir pekan lalu yang berbanding terbalik dengan perkiraan sejumlah analis yang mengatakan akan ada penyusutan pasokan besar-besaran, ditambah dengan pelemahan pertumbuhan permintaan.
Mutiara Nabila | 18 Juli 2018 17:55 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak merosot setelah kemunculan kabar kenaikan persediaan minyak AS pada akhir pekan lalu yang berbanding terbalik dengan perkiraan sejumlah analis yang mengatakan akan ada penyusutan pasokan besar-besaran, ditambah dengan pelemahan pertumbuhan permintaan.

Pada perdagangan Rabu (18/7), harga minyak Brent juga tercatat turun 0,30 poin atau 0,42% menjadi US$71,86 per barel dengan kenaikan 7,46% secara year-to-date (ytd) pada perdagangan di London ICE Futures.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 0,38 poin atau 0,56% menjadi US$67,70 per barel dan naik sebanyak 12,05%. selama tahun berjalan total volume yang, tidak jauh dari posisi pada perdagangan sebelumnya yang sempat menyentuh posisi US$67,03 per barel pada perdagangan Selasa (17/7).

Gejolak harga minyak sudah cukup mereda setelah sebelumnya anjlok tajam pada perdagangan Senin (16/7) dan pada sepanjang pekan lalu karena terthan oleh kemungkinan gangguan pasokan dari Venezuela yang kembali mencuat.

Sejumlah analis sebelumnya memperkiraka bahwa persedian minyak AS dapat mengalami penurunan hingga 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 13 Juli lalu.

Namun, kemunculan kabar adanya kelebihan pasokan membuat harga minyak yang sebelumnya menjulang tinggi kini berbalik arah. American petroleum Institute melaporkan bahwa pasokan minyak AS naik hingga lebih dari 600.000 barel pada Selasa (17/7).

Sementara itu, data selanjutnya yang juga dinantikan investor minyak dari Energy Information Administration (EIA) Departemen Energi AS akan dirilis pada Rabu (18/7) 10.30 waktu setempat.

Dari sisi pertumbuhan permintaan, hasil riset BMI Research melaporkan bahwa kenaikan risiko perang dagang antara AS dengan China bisa menyeret outlook pertumbuhan ekonomi global.

Untuk saat ini, laporan BMI menunjukkan bahwa outlook ekonomi global secara keseluruhan masih dalam keadaan baik di tengah perang dagang AS dan China.

Namun, ada sejumlah faktor yang sedang berkembang yang kemungkinan akan membalikkan posisi pertumbuhan ekonomi global saat ini. Salah satu faktor tersebut adalah penguatan dolar AS yang akan memicu tekanan inflasi dan pengetatan likuiditas.

Riset BMI menegaskan bahwa tensi perang dagang yang semakin kuat akan memberatkan permintaan fisikal untuk komoditas minyak mentah, dengan sektor kendaraan air, darat, dan udara menjadi pilar utama untuk permintaan minyak mentah secara global.

“Ketidakpastian pada kebijakan perdagangan AS akan menghambat perekonomian, meskipun sejumlah penerapan tarif belakangan ini memang tidak akan memberikan dampak besar,” ujar Kepala Federal Reserve Kansas Esther George, dikutip dari Reuters, Rabu (18/7).

George menyebutkan bahwa kebijakan perdagangan AS akan membawa risiko kerugian yang signifikan untuk outlook pertumbuhan ekonomi global.

 

Tag : Harga Minyak
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top