Jika Kuota Lebih, China Tambah Tarif Impor Gula

China segera menjatuhkan ekstra tarif pada impor gula yang melebihi kuota dari per 1 Agustus. Kementerian Perdagangan China mengeluarkan pernyataan tersebut setelah sudah lebih dari setahun memberikan tarif berat kepada petani tebu teratas dunia termasuk Brasil dan Thailand.
Mutiara Nabila | 17 Juli 2018 17:11 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – China segera menjatuhkan ekstra tarif pada impor gula yang melebihi kuota dari per 1 Agustus. Kementerian Perdagangan China mengeluarkan pernyataan tersebut setelah sudah lebih dari setahun memberikan tarif berat kepada petani tebu teratas dunia termasuk Brasil dan Thailand.

Pada Mei 2017, pemerintah China menekan sejumlah negara pengekspor gula dengan penalti pada pengiriman gula, setelah sebelumnya melakukan lobi dengan pabrik gula domestik.

Menteri Perdagangan China Zhong Shan sebelumnya mengatakan bahwa Negeri Tirai Bambu telah membebaskan tarif terhadap 190 negara dan wilayah produsen kecil yang kebanyakan berlokasi di Asia Tenggara dan Amerika Selatan.

“Daftar negara yang mendapatkan keringanan saat ini ditarik dan dibatalkan. Kebijakan proteksionis akan serentak diberlakukan pada seluruh impor gula yang melebihi kapasitas,” ujarnya, dilansir dari Reuters, Senin (16/7/2018).

China memberikan izin untuk impor gula sebanyak 1,94 juta ton per tahun dengan tarif 15% sebagai bagian dari komitmen China pada Organisasi Dagang Dunia (WTO). Pengiriman di luar kapasitas yang telah ditentukan tersebut akan dikenakan tarif lebih tinggi dan membutuhkan perizinan khusus.

Surplus gula global dan kenaikan produksi domestik telah membuat harga gula China anjlok pada tahun ini sehingga membuat produsen merugi. Selain itu, merosotnya harga mengancam upaya China untuk mendukung petani kecil di Provnsi Guangxi dan Yunnan yang kebanyakan warganya kurang mampu.

Pemerintah setempat di wilayah selatan China itu belum lama ini meminta pemerintah untuk mengetatkan pasokan dari pasar internasional di tengah kekhawatiran menumpuknya pasokan global yang akan memicu penyelundupan ke China.

Namun, aksi China itu menjadi kejutan bagi banyak trader, yang tidak mengira akan mendapat respons yang cepat dari pemerintah China.

Harga gula putih berjangka China terjun ke level terendahnya pada posisi 4.797 yuan atau setara dengan US$717,63 per ton pada pekan lalu. Level tersebut terakhir kali terlihat pada 2009, dan saat ini terus melayang di kisaran terendah selama 4 tahun.

Sementara itu, biaya produksi dari sejumlah pabrik bisa mencapai 6.000 yuan per ton. “Tarif baru itu akan membatasi keuntungan bagi pasar domestik pada tahun ini,” kata Liu Hande, Kepala Pengolah di Guangdong Shingqing Sugar Group Co Ltd.

China saat ini telah melakukan pembelian produk pemanis dari sejumlah negara yang sebelumnya diberikan keringanan tarif. Hande menegaskan bahwa tarif tambahan tersebut bisa saja menjadi pendorong harga gula pada pasar tahun depan.

Impor gula yang melebihi kuota itu telah dikenakan tarif sebesar 50% dan kebijakan perlindungan dengan tambahan tarif sebesar 45% pada tahun lalu sehingga totalnya menjadi 95%.

Tarif tersebut telah diturunkan menjadi 90% pada tahun ini dan akan kembali turun ke 85% pada tahun depan.

Pengimpor China mengurangi pengiriman gula secara signifikan dari pemasok utama seperti Brasil, setelah tarif mulai diperkenalkan tahun lalu. China juga menambah pembelian dari produsen kecil yang beru pertama kali melakukan ekspor ke China.

Dengan peraturan yang baru, China dapat kembali melakukan pembelian ke Brasil karena masih memerlukan volume impor untuk memenuhi permintaan setiap tahun. 

Sumber : Reuters

Tag : komoditas, gula
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top