JPMorgan Pacu Outlook Harga Minyak & Pangkas Prediksi Permintaan

Bank investasi JPMorgan meningkatkan outlook harga minyaknya, tetapi menurunkan prediksi pertumbuhan permintaan minyak globalnya pada tahun ini karena terlalu banyak ketidakpastian yang muncul di perdagangan internasional.
Mutiara Nabila | 16 Juli 2018 16:08 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank investasi JPMorgan meningkatkan outlook harga minyaknya, tetapi menurunkan prediksi pertumbuhan permintaan minyak globalnya pada tahun ini karena terlalu banyak ketidakpastian yang muncul di perdagangan internasional.

Bank asal Amerika Serikat itu menyebutkan bahwa minyak Brent, yang menjadi patokan bagi pasar minyak global, harganya akan berada pada rata-rata US$70 per barel pada 2018 dan 2019, naik dari prediksi sebelumnya pada US$60 per barel pada 2018 dan US$65 per barel pada 2019.

“Ketidakpastian di sekitar keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak [OPEC], keterbatasan anggaran, dan ekef sanksi dari AS membuat harga minyak dalam jangka pendek akan terus naik,” ungkap tim riset ekuitas Eropa JPMorgan dalam laporan resminya, dikutip dari Reuters, Minggu (15/7/2018).

OPEC pada Juni sudah sepakat untuk meningkatkan produksinya mulai Juli, tetapi tidak ada kejelasan terkait dengan cara pelaksanaannya, diiringi dengan AS yang kembali menjatuhkan sanksi ke pemasok utama minyak mentah Iran pada November mendatang.

Bank tersebut melaporkan bahwa kenaikan harga minyak akan tertahan oleh tambahan kapasitas dari OPEC dan siklus-pendek perekonomian minyak serpih AS dengan latar belakang penurunan permintaan pada periode 2018/2019.

JPMorgan merevisi outlook jumlah pertumbuhan permintaan minyak global menjadi 1,2 juta barel per hari dari sebelumnya 1,4 juta barel per hari. Namun, prediksi pada 2019 meningkat menjadi 1,1 juta barel per hari dari prediksi sebelumnya hanya sejumlah 1 juta barel per hari.

Outlook makro global, pelemahan mata emerging market (EM), dampak dari reli harga minyak baru-baru ini, dampak dari sanksi AS pada Iran, dan ketidakpastian perang dagang akan memberikan risiko potensial pada pertumbuhan permintaan,” kata Yoshinori Shigemi, ahli strategi pasar global JPMorgan.

Washington dan Beijing telah semakin larut dalam friksi perdagangan, dengan tarif besar yang dijatuhkan pada impor barang konsumsi masing-masing negara.

Pihak JPMorgan berharap pasokan minyak global akan tetap kuat meskipun ada gangguan jangka pendek. Bank itu memproyeksikan pasokan dari OPEC pada 2018 akan mencapai 32,9 juta barel per hari.

Bank tersebut juga menyebutkan bahwa produsen non-OPEC akan menaikkan output-nya hingga 2,2 juta barel per hari pada 2018 dan 1,7 juta barel per hari pada 2019 yang terdorong oleh hasil produksi dari AS, Kanada, Rusia, Kazakhstan, dan Brasil.

Shigemi menambahkan bahwa volatilitas pada harga minyak masih akan terlihat dan berlanjut sepanjang tahun ini.

“Kami memperikirakan harga minyak akan lanjut fluktuatif dengan rentang yang cukup luas pada US$50–US$80 per barel, dengan selisih harga Brent dan West Texas Intermediate semakin melebar.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, komoditas, opec

Sumber : Reuters
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top