Pasar Logam Membaik, Ekspor Aluminium China Melonjak

China mengekspor aluminium dengan rekor volume tertinggi untuk pertama kalinya pada semester I/2018, karena pasar metal global mulai berbalik setelah terkena dampak dari serangkaian kebijakan Amerika Serikat.
Mutiara Nabila | 16 Juli 2018 15:45 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – China mengekspor aluminium dengan rekor volume tertinggi untuk pertama kalinya pada semester I/2018, karena pasar metal global mulai berbalik setelah terkena dampak dari serangkaian kebijakan Amerika Serikat.

Pengiriman aluminium mentah dan produk aluminium lainnya melonjak hingga sekitar 510.000 ton pada Juni, data Bea Cukai China menunjukkan bahwa jumlah tersebut tercatat sebagai yang terbesar sejak Desember 2014.

Angka tersebut juga menambah jumlah ekspor China menjadi 2,71 juta ton, 13% lebih besar dari periode yang sama pada tahun sebelumnya dan jumlah terbesar yang pernah ada. Pengiriman baja dari China juga merangkak naik pada Juni, menyentuh level tertingginya selama hampir setahun.

Ekspor aluminium melonjak karena terdorong oleh harga global komoditas logam tersebut melonjak ke level tertinggi selama 7 tahun pada April karena adanya sanksi dari AS ke perusahaan produsen aluminium terbesar di dunia di luar China United Co. Rusal.

Hasil produksi aluminium di China yang memproduksi dengan jumlah lebih dari setengah total aluminium dunia, meluas pada Mei ke  level tertingginya dalam setahun.

Kendati demikian, dorongan di balik kenaikan ekspor tersebut kemungkinan akan segera berkurang. Harga aluminium di London Metal Exchange terus tenggelam hingga lima kali lipat dari puncaknya karena adanya tensi perang dagang dari dua kekuatan ekonomi dunia dan mengancam akan menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Pada Selasa (12/7) lalu AS kembali mengeluarkan daftar produk China seharga US$200 miliar yang kemungkinan bisa terkena tambahan tarif sebesar 10%, dengan China berjanji akan memberikan balasan.

Dilansir dari Bloomberg, Minggu (15/7/2018), Goldman Sachs Group Inc. menyebutkan bahwa akan ada sedikit prospek akan resolusi pada konflik tersebut dalam waktu dekat.

Data logam lainnya yang dirilis China antara lain ekspor baja yang hingga 6,94 juta ton pada Juni, tetapi masih 13% lebih rendah dari jumlah selama enam bulan pertama tahun ini sebanyak 35,4 juta ton. Impor bijih baja anjlok menjadi 83,2 juta ton pada Juni dari jumlah 94,1 juta ton pada Mei.

Selain itu, impor tembaga yang belum diolah dan produknya merosot menjadi 450.000 ton pada Juni, dari jumlah sebelumnya sebanyak 480.000 ton pada Mei, meskipun masih tercatat mengalami kenaikan sebanyak 16% sepanjang semester I/2018.

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, aluminium
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top