PDB Positif, IHSG Sukses Pertahankan Level 5.900

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengikis pelemahan sekaligus mempertahankan posisinya di level 5.900 pada akhir perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018).
Renat Sofie Andriani | 16 Juli 2018 17:29 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/6/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengikis pelemahan sekaligus mempertahankan posisinya di level 5.900 pada akhir perdagangan hari ini, Senin (16/7/2018).

IHSG ditutup melemah 0,65% atau 38,92 poin di level 5.905,16, mematahkan reli penguatan yang dibukukan lima hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Indeks mulai tergelincir ke zona merah saat dibuka turun 0,04% atau 2,16 poin di level 5.941,91 pagi tadi. Pada perdagangan Jumat (13/7), IHSG masih mampu memperpanjang penguatannya dengan berakhir naik 0,61% atau 36,20 poin di level 5.944,07.

Meski sempat melorot lebih dari 1% dan menjauhi level 5.900 menjelang penutupan perdagangan, IHSG berhasil menghimpun sedikit tenaga sekaligus mengikis pelemahan untuk kembali menembus level 5.900.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif pada kisaran level 5.847,35 – 5.956,80. Sebanyak 137 saham menguat, 235 saham melemah, dan 225 saham stagnan dari 597 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data Bloomberg, tujuh dari sembilan indeks sektoral IHSG menetap di zona merah dengan tekanan utama dari sektor infrastruktur (-1,47%) dan aneka industri (-1,36%). Adapun sektor perdagangan dan finansial masing-masing berakhir naik 0,23% dan 0,11% sekaligus membatasi pelemahan IHSG.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 berakhir melemah 0,49% atau 2,50 poin di level 511,31, setelah dibuka turun 0,18% atau 0,93 poin di posisi 512,89.

Mayoritas indeks saham lain di Asia Tenggara terpantau bergerak negatif sore ini, dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,85%), indeks SE Thailand (-1,13%), dan indeks PSEi Filipina (-0,40%). Di sisi lain, indeks FTSE Malay KLCI naik 0,28%.

Di kawasan Asia lainnya, indeks Kospi Korea Selatan turun 0,39%, indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,05%, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 0,61% dan 0,59%.

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific, selain Jepang, turun 0,4% ke posisi 538,16 pada pukul 4.30 sore waktu Hong Kong.

Laporan Biro Statistik Nasional China (NBS) hari ini mengungkapkan, Produk Domestik Bruto (PDB) China tumbuh 6,7% pada kuartal II/2018 dari tahun sebelumnya, sedikit melambat dari raihan pada kuartal pertama yakni 6,8%.

“Pasar khawatir apakah China yang berlaku sebagai jangkar untuk Asia akan menemukan pijakannya di tengah perlambatan dan perang dagang,” ujar Jingyi Pan, market strategist di IG Asia Pte., seperti dikutip Bloomberg.

Data ekonomi China pada kuartal kedua tersebut membebani pasar di seluruh Asia sepanjang perdagangan hari ini ini, sekaligus menambah kekhawatiran investor tentang dampak perang perdagangan China-AS terhadap pertumbuhan ekonomi di China dan seluruh dunia.

Ciptadana Sekuritas Asia mengatakan, pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini mencerminkan kekhawatiran sejumlah investor dengan prospek pertumbuhan.

“Reli pekan lalu didorong faktor-faktor teknikal alih-alih perbaikan pada fundamental pasar,” ujar John Teja, Direktur di Ciptadana Sekuritas.

Menurut Evan Lie Hadiwidjaja, kepala riset di Sinarmas Sekuritas, sejumlah investor memutuskan untuk mengambil untung pascareli pekan lalu seraya menantikan kejelasan dari laporan keuangan emiten kuartal kedua.

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan, setelah data neraca perdagangan, pasar menantikan agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dalam dua hari ke depan.

“Meskipun kami memprediksi tidak akan ada perubahan BI 7-Days Reverse Repo Rate, tetapi pandangannya kepada perekonomian menjadi sesuatu yang patut kita nantikan terhadap ketidakpastian ekonomi dan perang dagang saat ini,” papar Nico dalam risetnya hari ini.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2018 surplus US$1,74 miliar.

Nilai ini diperoleh dari posisi neraca ekspor yang tercatat sebesar US$13 miliar atau lebih tinggi dibandingkan nilai neraca impor yang sekitar US$11,26 miliar. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan surplus pada Juni 2018 didorong oleh surplus neraca nonmigas pada bulan ini.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

UNVR

-2,45

TLKM

-1,99

ASII

-1,47

GGRM

-2,80

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBCA

+0,43

EMTK

+4,14

BBNI

+1,38

TPIA

+1,45

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top